3/18/2025

Seni Bertahan ala Roker

Perubahan dalam hidup adalah hal yang sudah biasa dan semestinya. Menyaksikan perubahan ke arah yang lebih baik tentunya menjadi hal yang kita nanti-nantikan. Namun, apa jadinya kalau perubahan yang terjadi tidak sesuai prediksi kita sebelumnya. Apalagi, kalau terjadinya secara tiba-tiba. Bisa jadi sebetulnya tidak berdampak apa-apa, tetapi pusingnya sudah terpampang nyata di kepala😆.  

Untuk ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret, kali ini saya ingin berbagi cerita seni bertahan dari perubahan, ala Roker -Rombongan Kereta. Barangkali, bisa memberikan ide bagi Mamah dalam mengarungi perubahan di kehidupan. 



Sudah bukan rahasia lagi bahwa RoKer, Rombongan Kereta, alias para pengguna KRL (Kereta Rel Listrik) adalah ras terpilih yang diyakini keunggulannya dalam bertahan di muka bumi. Apalagi kalau bukan karena kemampuannya untuk bertahan terhadap perubahan. Ada 700.000 commuter yang  setiap hari mengasah kemampuan bertahannya. Bisa dibayangkan ketika jam padat berangkat dan pulang kantor, jangan pernah coba-coba untuk bergelut dengan ras unggul ini kalau Mamah tidak punya modal yang cukup. Perubahan jadwal kereta, perubahan cuaca, perubahan lajur antrian -yang memang tidak pernah ada😁-, hingga perubahan mood penumpang lain dimana Mamah akan dengan mudah berkata, lah apa hubungannya dengan saya?, menjadi tempaan kehidupan sehari-hari bagi para RoKer. Bagaimana mereka bertahan dengan segala bentuk perubahan? Check it out!

Mengidentifikasi adalah kunci

Wajib hukumnya bagi RoKer, untuk mengidentifikasi kondisi lapangan dalam memprediksi perubahan. Di tengah kerumunan yang sering kali membuat jumlah oksigen sangat terbatas, bisa berpikir jernih adalah suatu keahlian tersendiri. Bagi suhu-suhu RoKer dengan track record panjang, mereka akan berjalan dengan tenang memasuki stasiun KRL, menjaga kadar oksigen tetap baik untuk berpikir jernih. Sementara itu, para RoKer fresh graduate akan panik setiap mendengar klakson kereta, berlari menyongsong kereta yang datang, ingin segera masuk dalamnya. 

Penumpang KRL menanti kereta datang
sumber: detik.com

Para suhu sama sekali tak terganggu. Alih-alih ikut mempercepat langkah menuju pinggir rel, mereka malah berbelok santai menuju minimarket. Keluar dengan menenteng kudapan dan minuman, berjalan santai ke peron, dan mendapati para freshgrad masih juga ada disitu, menggerutu karena tak bisa masuk ke kereta yang tadi heboh dikejar. 

Bagi kebanyakan orang, perubahan kondisi yang serba cepat di dalam stasiun KRL bisa mengancam kewarasan, bahkan keselamatan jiwa. Orang-orang yang berlari dengan cepat, suara pengumuman yang sering kali terlewat untuk didengarkan saking cepatnya, hingga suara klakson kereta yang memekakkan telinga. Bagi RoKer, menghadapi kondisi ini bisa dilakukan dengan duduk santai di bangku, menikmati kudapan, sambil memperhatikan kondisi sekitar. Antrian mana yang paling panjang, kereta jurusan mana yang akan datang, dan berapa jumlah gerbongnya. Apakah ada gerbong wanita atau tidak, dan bahkan mengamati di pintu-pintu mana penumpang-penumpang low skill berdiri untuk mengantri. 

Tetap tenang untuk mengidentifikasi apa yang sebetulnya sedang terjadi adalah kunci.

Saatnya beraksi penuh energi

Mempersiapkan yang bisa disiapkan, sisanya adalah urusan nanti menjadi motto andalan para RoKer. Pasalnya, terlalu banyak yang tidak pasti untuk bisa memprediksi semua perubahan yang akan dilalui. Terlalu lama berpikir bisa beresiko kehabisan kereta. Membayangkan argo taksi sudirman-banten plus macet yang bisa berpotensi mengeliminisasi jatah makan entah berapa hari tentunya lebih horor lagi. Daripada pusing sendiri, lebih baik melakukan apa yang bisa dilakukan. Pastikan perut tidak lapar, tidak haus, dan tidak ingin ke toilet sebelum memasuki peron stasiun. Sisanya, kalau ada apa-apa yah kita anggap apes saja😁.

Pikiran yang tenang, persiapan yang baik, membuat para RoKer punya energi yang cukup untuk beraksi. Beberapa RoKer senior berkamuflase, dengan santun ikut mengantri di pinggir peron dan dengan penuh semangat tertib, masuk ke dalam kereta. Sebagian lainnya tidak ikut mengantri, tapi dengan santun inserting her/himself  ke dalam penuh sesak penumpang di dalam gerbong. Menyelinap di sela-sela orang lain, memanfaatkan posisi awkward penumpang lain yang menghasilkan ruang kosong, maupun dengan sopan meminta orang lain bergeser adalah beberapa cara RoKer tipe kedua ini untuk bertahan hidup dan membaur dengan khalayak umum. Tipikal kedua ini ngeselin bagi penumpang lainnya, tetapi masih bisa dimaafkan karena masih ada kata-kata maaf, maaf, permisi mbak, permisi mas. Berhubung hidup di negara yang permisif -berbuat dulu lalu bisa minta maaf belakangan-,  golongan RoKer jenis ini cenderung dapat diterima masyarakat. 

Seni bertahan ala golongan RoKer yang ketiga hanya bisa ditiru oleh orang-orang yang bermental baja dan berenergi luar biasa. RoKer jenis ini akan berdiri jauh dari kerumunan antrian di pinggir peron, bahkan duduk atau menyender di tembok, seolah-olah pergi ke stasiun hanya untuk menonton saja dan tidak perlu naik kereta. Ketika kereta datang, mereka tetap tenang. Ketika pintu terbuka, dan orang-orang lainnya mulai berhimpitan berebutan untuk masuk, mereka tetap tak bergeming. 

Ketika semua penumpang yang memenangkan pertandingan masuk kereta sudah ada di dalam gerbong, dan 3 detik lagi pintu kereta ditutup, RoKer jenis ketiga ini beranjak dari posisinya, mengambil kuda-kuda, dan berlari kencang bagaikan super saiyan. Memunculkan kilat-kilat yang bergerak cepat mendekat ke arah gerbong. Diakhiri dengan gerakan melemparkan dirinya ke kerumunan sesak yang ajaibnya menghasilkan ombak gerakan manusia yang terbelah, menyisakan ruang di dekat pintu untuk menampung badannya #applause



RoKer jenis ketiga, bagaikan super saiyan
sumber: pinterest


Tenang, yang tadi belum seberapa epic. Bila tidak keburu melemparkan seluruh badannya, RoKer jenis ini tak akan kehabisan akal. Ransel, tas jinjing, botol minum, atau sebagian tangan dan sebagian kaki, mungkin juga setengah badan temannya, apapun lah, akan dia lemparkan ke arah pintu kereta yang hampir menutup. Intinya, hanya untuk mengganjal pintu dan membuat sensor pintu kereta mendeteksi ada yang terjepit. Secara otomatis pintu akan membuka kembali, dan seluruh badan RoKer bisa masuk dengan elegan ke dalam gerbong #standing applause

Tentukan strategi, mau beraksi seperti apa. Lalu, kumpulkan seluruh energi untuk mengupayakannya.

Bertahan, benar-benar bertahan 

Bila semua upaya sudah dilakukan, hal yang harus dilakukan untuk mengakhiri cerita dengan indah adalah sebisa mungkin bertahan. Bertahan yang sesungguhnya, ala RoKer adalah ketika badan tidak lagi melawan. Ketika sudah masuk ke dalam gerbong kereta, dan di dalam sangat penuh, untuk bertahan yang bisa dilakukan hanya lah mengikuti arus. Tanpa melawan, cukup ikuti gerakan yang mengarahkan badan bagai amoeba yang terombang ambing di air.

Pasrah bagai amoeba
Sumber: CNN Indonesia

Terkadang, bukan hanya berdiri berhimpitan. RoKer seringkali merasa tidak lagi menapak di bumi😂. Iya, saking penuh keretanya, kita tidak lagi punya ruang untuk menapak. Badan melayang terbawa himpitan manusia lainnya. Kehilangan kontrol badan yang semakin kita melawan, semakin aneh jadinya. Sebaliknya, dengan fleksibel mengikuti arus, kita mengurangi resiko pergerakan yang mengganggu orang lain, dan malah bisa saving energi. Nggak usah ngoyo. Diam saja dan bertahan.

Tutup mata dan telinga menjadi kunci yang cukup jitu untuk bertahan di dalam gerbon KRL. Biarlah orang lain bicara apa, biarlah orang lain berbuat apa, yang penting kita selamat sampai di stasiun tujuan. Dalam beberapa kondisi ekstrim, menutup hidung juga sangat membantu. Bau-bau ajaib yang berseliweran tidak akan menyurutkan tekad kita untuk sampai di tujuan.

Pasrah dan fokus pada tujuan, biarkan yang lain berkata apa.

Penutup

Begitulah secuplik cerita seni bertahan ala Rombongan Kereta, semoga menginspirasi mamah!  
 


2/15/2025

Kebiasaan deh!

Sungguh saya tergelitik mendengar celetukan Kak Risna saat pengumuman topik Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang pertama. "Kebiasaan jadi deadliner tuh," celetuknya sambil tertawa. Mencoba mengelak tapi setelah ditelusuri lagi, memang, hal yang cukup konsisten saya lakukan hingga bisa dibilang itu kebiasaan saya adalah jadi deadliner di tantangan MGN (ketawa geli sambil malu sendiri).




Baiklah, mari kita zoom in kilas balik kebiasaan saya untuk bisa ikut tantangan MGN tanggal 20 di setiap bulan, paling tidak diprotret dalam hampir 12 bulan belakangan.

Merencanakan akhir yang Indah

Saya tahu, tercepot-cepot nulis dan submit tantangan di setiap bulan bukan lah pengalaman yang menyenangkan untuk diulangi lagi. Makanya, di awal bulan, terutama saat tema tantangan sudah diumumkan, saya selalu bertekad kuat langsung menulis saat itu juga. Biasanya ide langsung muncul ketika pertama kali membaca tema. Bahkan poin demi poin gagasan langsung mengalir deras. Saat itu, dimana dan kapanpun setting waktunya, rasanya seperti sedang menyambut pagi yang indah, matahari bersinar dan burung berkicau, menyongsong masa depan yang cerah.

Bangun rin, bangun. Selang beberapa menit setelah saya selesai membaca tema tantangan dan mencetuskan poin-poin kerangka tulisan di kepala, alarm berbunyi. Tergopoh-gopoh saya terbangun dari mimpi indah sedang duduk di pagi hari yang indah.

 "BUBUUUUUU," teriak anak wedok memanggil. Kakiku gatal, punggungku nggak enak, aku mimpi zombie, atau di hari-hari lainnya, ketika saya rasa semua sudah disiapkan untuk menghindari ini, anak wedok tetap bangun. "Bubu udah beliin aku makanan kucing?". Dengan berbagai alasan yang bisa dijadikan alasan, ibunya harus berhenti menatap handphone agar segera bisa menatap wajahnya. 

Semacam membandingkan pembukaan UUD 45 dan menjalani kehidupan sebagai warga negara di Indonesia, saya semakin paham bahwa cita-cita tidak selalu bisa, apalagi mudah, untuk terlaksana. Di awal kemerdekaan, cita-citanya adalah negara yang adil dan makmur. Ternyata setelah lebih dari 75 tahun berjalan, rasanya seperti semakin jauh dari rencana ya. Nah, tidak usahlah sibuk mengomentari para pengatur negara, karena mewujudkan cita-cita pribadi saja kalang kabut, Rin. Padahal bukan cita-cita yang setinggi-tinggi langit. Ini hanya rencana sederhana, ikut tantangan MGN dengan lebih bersahaja. 

Tidak perlu menunggu 75 tahun, 2-3 jam saja setelah saya selesai membaca tema tantangan, biasanya cita-cita setor tantangan MGN yang sudah saya harapkan di setiap bulan, buyar.

Tapi yang namanya hidup, harus optimis dan jalan terus. Rencana, tentu harus ada  cadangannya dong. Kalau gagal, kita ganti rencana. Kalau sebelumnya saya membaca tema tantangan di pagi hari saat bangun pagi, di bulan selanjutnya saya akan membaca tema tantangan di Bus, saat perjalanan ke kantor.

Memasuki bus, matahari kembali bersinar dan kicau burung menyambut saya masuk ke dunia harapan. Membuka web MGN, membaca, dan bersiap membuka blogger mobile. Sambil menunggu loading, tangan saya bergerak membuka channel kantor. Membalas 1 pesan, 2 pesan, 3 pesan, lalu disusul getar handphone menandakan pesan lainnya masuk. 4 pesan, 5, 6, 7. Sampailah saya di halte depan kantor, yang artinya sudah saatnya saya turun dari Bus. Ya, hari itu berakhir dengan laman blogger saya terbuka, tanpa ada tulisan apa-apa di dalamnya.

Menunda-nunda

Saya punya 18 hari setelahnya, tetapi selalu ada alasan untuk menunda. Ah masih ada besok. Besoknya, masih ada besok lagi. Ah, masih seminggu lagi. Tidak terasa, sudah tanggal 18, tandanya besok adalah hari terakhir untuk bisa duduk cantik, ikut tantangan dengan bersahaja tanpa harus dikejar-kerja detak jam.

Tanggal 19 datang, dan cerita di awal bulan tantangan berulang. Biasanya di hari ini, ceritanya lebih heboh lagi. Tiba-tiba dikirim kantor ke luar kota dan seharian heboh di lapangan, atau 1 dari dua anak sakit. Sebagai pelengkap heboh, bisa juga 2 anak kompak sakitnya. Hari damai untuk menulis tantangan akhirnya berganti menjadi hari heboh pergi ke dokter, atau maraton dakwah bertemu orang-orang di lapangan.

Dan hari itu datang

Tanggal 20, biasanya saya akan menjadi lebih galak dari biasanya. Kalau sudah begini, saya akan berangkat ke kantor pagi-pagi, dan fokus untuk tidak tergoda membuka channel kantor ketika duduk di bus. 

Ketak ketik ketak ketik.

Yang saya heran, hampir setiap saya merencanakan posting di bus, jalanan ke kantor tiba-tiba menjadi lancar. Waktu perjalanan berkurang sekitar 15-20 menit. Dan akhirnya, kurang 1-2 paragraf lagi, saya sudah harus turun dari bus. Nanti lanjut di kantor deh, begitu selalu pikiran saya.

Menuju lift saya terus merapal, untuk menancapkan ingatan harus posting. Semacam anak-anak yang didoktrin melalui kata-kata. Sayangnya, doktrin kata-kata hanya di dalam kepala saya saja. Orang-orang di kantor saya mana tau sedang ada apa. Jadilah begitu masuk melangkah ke dalam kantor, bertemu orang tak ada jedanya. Hingga tiba waktunya pulang. Hedeh, perasaan kalender kosong.

Kebiasaan lainnya adalah ketika tanggal 20 adalah jadwal saya kerja dari rumah. Rasanya ingin bersyukur, karena bisa ngumpet sejenak, tetapi memang tetap tidak boleh sombong. Setiap sombong dan optimis berlebihan, meskipun kerja dari rumah, selalu ada kejadian-kejadian aneh. Kebakaran dalam arti bukan sebenarnya selalu terjadi ketika saya merasa akan punya banyak waktu di hari itu untuk menikmati hari posting tantangan. Telepon tiada henti berdering, dan berakhir lebih heboh dibanding hari-hari dimana saya harus ke kantor. 

Dua skenario akhir cerita

Kalau sudah heboh tiada henti begitu, biasanya saya akan merasa bersalah, dan sore hari, ketika harusnya bisa posting, saya akan keluar dari gua tempat semedi bekerja dan bermain dengan anak. Berikutnya, saya akan mewanti-wanti anak untuk tidur lebih cepat karena masih ada yang harus bubu kerjakan di malam ini. Berikutnya, saya akan minum kopi dan makan tidak terlalu banyak agar tidak mengantuk.

Beberapa jam setelahnnya, semakin saya berharap anak saya cepat tidur, semakin mereka berdua sulit tidur. Hingga akhirnya saya menyerah dan ikut berbaring untuk memeluk mereka. Satu skenario adalah ketika saya bisa bangun pukul 23.00 atau paling tidak 23.00, lalu tercepot-cepot menulis tantangan. Atau skenario lainnya adalah saya bangun 00.02, dan meratap.

Penutup

Benar-benar catatan receh yang bisa saya tuliskan disini. Bukan untuk terus menjadi kebiasaan, tapi maksudnya untuk refleksi, evaluasi biar tidak terjadi lagi. Meskipun untuk posting kali ini, tetap belum bisa terealisasi ya perbaikan evaluasinya. hehehe