3/17/2026

Emosiku dulu dan sekarang

Hi Mah! Sayang sekali resolusi 2026 saya untuk tobat jadi deadliner gagal di bulan lalu. Gagal, bukan hanya karena tetap jadi deadliner, tapi juga ketiduran (lagi) menjelang detik-detik proklamasi batas posting tantangan dan berujung gagal ikut tantangan MGN pertama tahun 2026. Kali ini, meskipun tetap melestarikan budaya deadliner, marilah kita upayakan untuk berhasil ikut tantangan. Semangat!!!


Bertepatan dengan penghujung Bulan Ramadhan, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini sangat cocok menjadi wahana refleksi diri. "aku versi sekarang" versus "aku versi dulu", dalam tantangan kali ini saya akan menuliskan cuplikan perbandingan diri sendiri dalam dimensi emotional regulation alias transformasi diri dilihat dari perwujudan ngamuk dari masa ke masa.


Aku yang dulu

Ririn kecil terkenal seantero gang rumah. Bukan hanya karena tiap tahun langganan jadi juara santri terbaik pesantren ramadhan yang diselenggarakan masjid komplek rumah, tetapi juga karena power dan pitch kontrol yang terjaga konstan tinggi dalam bernyanyi ketika sedang kesal. Sudah bukan rahasia lagi, ketika ada yang membuat saya kesal, saya akan mengurung diri di kamar dan menangis meraung-raung. 

Kebetulan kamar saya memiliki jendela yang menghadap ke halaman depan rumah, berbatasan langsung dengan jalan dan rumah-rumah tetangga di seberang rumah orang tua saya. Jendela kamar berbentuk deretan kaca nako, yang bisa dibayangkan, ada celah diantaranya tidak tertutup sempurna seperti jendela kaca polos jaman sekarang. Bila cerita ini terjadi di jaman sekarang dengan set up rumah modern berjendela kaca polos lebar yang kedap suara, mungkin yang akan dirasakan oleh tetangga saya lebih mirip show pantomim: melihat orang dengan gerak bibir atau gerak-gerak lainnya, tanpa suara. Sayangnya, jendela nako menghadirkan pengalaman efek 4 dimensi bagi tetangga saya: visual, suara memekakan telinga, jantung berdebar, dan pengen ikut ngamuk saking lama dan seringnya intensitas saya nangis meraung-raung

Raungan menangis ini biasanya juga disertai orasi mengecam orang tua, semacam teriakan "Ibu Jahaaaatt", atau "Ibu nggak sayang sama akuuu", serta aksi teatrikal nduduti sprei. Saya yang sedang berwujud manusia serigala murka, biasanya akan menarik sprei, sampai lepas dari kasur dan membanting sprei itu ke lantai. Tingkat murka bisa dilihat dari seberapa banyak bagian sprei yang terlepas dari kasur. Kalau sprei hanya lepas di kedua sisi, tandanya masih aman. Tapi kalau sprei sudah gundul sepenuhnya, wah tanda-tanda ultraman harus dihadirkan di muka bumi.


Untungnya, Ririn kecil tidak cukup kreatif untuk melanjutkan aksi-aksi teatrikal dalam bentuk lainnya. Tidak juga terinpirasi kakaknya, karena kalau mengikuti kakak yang hobi ngide kabur dari rumah bawa payung dan boneka, aksi teatrikal ngamuk meraung-raung ini bisa lebih epic lagi jadinya.

Aku yang sekarang

Sungguh tobat dan ingin sujud mohon maaf kepada orang tua kalau ingat kelakuan ngamuk di jaman dulu. Setelah punya anak yang suka tiba-tiba tantrum, bukan hanya di rumah, tapi juga di stasiun KRL setiap pagi ketika akan diantar ke daycare, tentunya membuat rasa ingin tobat ini menjadi semakin lebih kuat. 

Rasa kesal ketika dewasa tentunya masih ada. Bahkan mungkin dalam tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi. Tetapi rasa kesal ini sering kali harus teredam oleh berbagai macam alasan lainnya. Contoh kecilnya adalah saya tidak bisa langsung ngamuk ketika ada anggota tim aneh, karena begitu ingin mengeluarkan sisi ngamuk-zilla saya, saya harus langsung ingat bahwa saya dibayar sebagai ketua tim untuk menangani keanehan-keanehan ini. Belum lagi kalau ingat kerusakan properti di kantor harus diganti-mungkin potong gaji. Wah nggak jadi ngamuk deh.

Sedikit berbeda ketika di rumah. Mungkin seperti anak-anak yang menahan diri di sekolah, dan tumpah ruah emosinya, menangis dan rewel sejadi jadinya ketika sampai dirumah bersama ayah ibunya, saya pun masih sering begitu. Tantrum versi dewasa, lebih mengerikan jadinya. Kalau dulu nduduti  sprei, kali ini lebih ngeri karena akal sudah lebih berkembang (ke arah negatif). Pintu kamar mandi jadi sasaran. Menutup pintu kencang-kencang, atau menendang ember di kamar mandi. Bila frustasi sudah lebih akut, seringkali saya hanya duduk diam sambil menangis.

Mengerikan memang. 

Setahun belakangan saya menyadari bahwa mencari pertolongan psikologis menjadi hal yang wajar. Saya mulai berkonsultasi, dan menemukan titik-titik ledakan dalam diri saya. Selain itu, saya mulai berdamai dengan kondisi fisik. Bila dulu gengsi sekali mengakui hipertensi dan perlu minum obat, sekarang dengan senang hati saya minum obat tensi rutin. Lebih tenang dan bahagia, daripada dihantui ketakutan tiba-tiba terkena serangan jantung atau gagal ginjal. Bila dulu harus ini dan harus itu, kalau sekarang lebih banyak woles saja. 

Kalau nggak bisa ya sudah, nggak apa-apa 😊