4/14/2023

Sapi Boyolali selalu di Hati

Boyolali adalah kota yang akan pertama kali muncul di kepala saya ketika ada pertanyaan: kota mana yang paling berkesan untukmu. Bukan, bukan karena ada segudang prestasi dan atraksi hingga turis lokal dan mancanegara berduyun-duyun datang, namun, Boyolali mengukir memory tersendiri untuk saya. Ayah saya berasal dari Boyolali, dan pergi ke Boyolali menjadi ritual tahunan keluarga kami saat lebaran tiba. Kali ini saya tidak mau cerita bagaimana kami menghabiskan waktu saat lebaran di Boyolali, karena selain akan mengandung mewek bombay, juga tidak sesuai dengan tema tantangan yang harus saya tulis. Yups, tulisan ini saya buat untuk ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan April 203 dengan tema "Landmark kota yang ingin atau pernah dikunjungi".


Kota Kecil Mempercantik Diri

Boyolali saat ini tidak sama seperti dulu. Dulu, pergi ke Boyolali berarti saatnya kami mengunjungi Tirta Tlatar untuk mandi di kolam renang mata air asli, ke Janti untuk makan ikan di pemancingan, ke belakang stadion untuk makan soto Boyolali, antri di depan mbok penjual bubur tumpang untuk sarapan, dan tentu saja menyambangi Koperasi Unit Desa (KUD) untuk mengisi jerigen-jerigen kosong dengan susu sapi segar. 



Soto, susu segar, dan bubur tumpang, icon Boyolali untuk saya

Deretan makanan diatas sebetulnya paling cocok untuk dijadikan icon kota kecil ini. Sayangnya, kalau dilanjutkan bahas yang tadi, tema tantangan blogging harus bergeser. Bukan landmark, tapi mellowmark #mulai maksa

Sekitar 7 tahun yang lalu, Boyolali berbenah. Satu kawasan yang diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat mulai dibangun, menyatukan gedung pemerintahan, pusat perniagaan, dan juga lapangan luas semacam alun-alun dalam satu tempat. 

Layaknya alun-alun yang sesungguhnya, Boyolali juga menempatkan icon pada lapangan luas ini. Bila alun-alun di banyak kota lainnya menempatkan pohon bringin sebagai pemandangan utama, warga Boyolali memilih menempatkan sapi raksasa sebagai icon yang tak kan terlupa.


Lembu Sora

Yess, Lembu Sora namanya. Sapi raksasa yang duduk menggeletak dengan santai, seolah tidak punya masalah hidup. Sangat menggambarkan kehidupan damai ala Boyolali.

Lembu Sora

Saya tidak banyak tahu tentang sejarah, jadi tergelitik juga mencari tahu, kenapa Lembu Sora yang dipilih sebagai icon. Dari hasil googling kilat, Lembu Sora adalah tokoh pemberani di kerajaan Majapahit, yang punya loyalitas sangat kuat pada Raden Wijaya. Okelah, mungkin Boyolali punya harapan besar pada warganya untuk menjadi pemberani dan loyal kepada daerahnya. Tidak salah lagi, memang orang-orang Boyolali ini dimanapun dan kapanpun bangga sekali dengan daerah asalnya. Berani, lugas, supel, itulah karakter umum orang-orang Boyolali. Jadi ketika disebut orang Boyolali, sepertinya ada asumsi bahwa otomatis kita memiliki sifat-sifat itu, padahal sih ya belum tentu.hehehe. 

Susu Segar Boyolali

Pertanyaan selanjutnya, kenapa icon sapi yang dipilih, apakah karena Lembu Sora itu literally seekor Lembu? Mungkin mamah-mamah pembaca ada yang gemes banget dan ingin segera komentar menceritakan lebih detail tentang Lembu Sora. Meskipun belum pernah lihat Lembu Sora versi pahlawan di cerita sejarah, patung Lembu Sora di alun-alun Boyolali ini memenuhi bayangan imajinasi saya tentang Sapi Perah. Sapi penghasil susu segar Boyolali, yang bisa saya teguk tanpa berhenti hingga habis 1 Liter dalam sekali minum.

Susu segar Boyolali jaman dulu, memang enak mah. Untuk saya yang pecinta susu dan sudah kenal susu segar Boyolali, begitu datang ke ITB dan minum susu segar di gerbang belakang, rasanya terkhianati sekali🤣. Di Boyolali, susu segar biasanya kental. Bila setelah direbus kita diamkan di dalam gelas, akan muncul lembaran lemak di permukannya. Saya menyebutnya langit-langit susu. Ayah saya yang sejak kecil tinggal di Boyolali selalu bangga menceritakan langsung minum susu yang baru selesai diperah. Saya sendiri belum pernah. Selalu minum hasil perahan yang dijual KUD, dan pastinya sudah dicampur air. Tentu saja meskipun sudah dicampur air, tetap bisa kita sebut susu yaa..bukan air bau susu.hahaha

Kembali lagi ke Lembu Sora

Boyolali, sejak dulu kala memang identik dengan sapi. Yang jelas sejak dulu ada 1 patung sapi di dekat pasar induk, dan 1 patung sapi di dekat Kridanggo, fasilitas olah raga dan penyimpanan benda peninggalan purbakala. Saya yang masih bocil kala itu, senang sekali lihat patung sapi. Ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin Lembu Sora hadir untuk menjadi induk patung-patung sapi yang sudah ada.

Sebetulnya Lembu Sora ini adalah sebuah gedung. Semacam education center, berisi hall dengan kursi berbentuk teater dan layar besar yang bisa menyajikan informasi terkait Boyolali untuk pengunjung. Saya sendiri waktu main ke sana tidak sampai masuk ke dalam. Karena datang malam hari, saya lebih tertarik untuk mendekat kepada tukang ronde, sambil menghibur anak saya yang ingin naik odong-odong.

Bapak saya bangga sekali ada gedung sapi ini. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh banyak warga Boyolali lainnya. 

Saya sebetulnya masih bertanya-tanya, apakah memang sapi perah menjadi icon yang tepat untuk Boyolali. Memang susu sapinya jadi favorit saya. Tapi, setau saya tidak ada peternakan profesional yang memang bisa memproduksi susu berkualitas baik dengan skala besar disana. KUD tempat saya biasa membeli susu mendapat pasokan dari petani perseorangan, yang mengantarkan susu dengan sepeda. Bisa terbayang bagaimana kapasitas produksinya. Yah, mungkin sapi raksasa ini dibuat sebagai pengingat, sapi perah adalah potensi Boyolali, peternak sapi tradisional perlu dibina dan dikembangkan, bukan dimusnahkan.

Terlepas dari kehidupan sapi perah -eh peternaknya- di Boyolali, cukup menghibur pergi ke pusat kebupaten ini. Ada odong-odong unlimited naik sakpuasmu dengan hanya membayar 5 ribu rupiah saja, dan tentunya deretan tukang ronde yang diatur rapi dan diperbolehkan berjualan disekitar area Gedung Lembu Sora. Meskipun belum bisa mengidentifikasi filosofi dibaliknya, melihat Lembu Sora saya langsung terbayang, sosok ramah, banyak teman, sekaligus besar, kuat, berwibawa, dan  siap menyeruduk siapa pun yang mengganggu, benar-benar seperti orang Boyolali lah pokoknya 😄.

Ketika orang Boyolali menatap masa depannya

Penutup

Sekian cerita dari saya, yang dibuat dengan sangat berdedikasi selama perjalanan pulang di bus, dan sambil berdiri menunggu gojek di pinggir jalan. Silahkan mampir ke Boyolali, minum susu segar dan mampir ke alun-alun untuk ketemu Lembu Sora ya mah!

3/03/2023

Toaster ala ala mempermudah segalanya

Soal bagaimana memanggang roti

Salah satu perdebatan paling fenomenal antara saya dan suami yang berlangsung sejak awal nikah adalah apakah kami perlu punya toaster atau tidak. Suami dengan cita-citanya yang ingin menikmati kehidupan damai sentosa di pagi hari, nyeruput teh sambil sarapan roti tawar bau-bau gosong dengan permukaan garing, ingin sekali punya toaster. Masukin roti ke toaster, tinggal duduk sambil baca koran atau nonton TV tanpa harus berpikir, dan menunggu roti yang muncul keluar dari toaster tampaknya menjadi tujuan hidup beliau yang paling hakiki. Kenyataannya, pagi hari dengan satu toddler yang nemplok dan satu anak TK yang belum mandi padahal 5 menit lagi dijemput mobil sekolah tentu saja jauh dari ekspektasi. 

Saya, dengan pengalaman ikut pramuka sejak SD hingga SMA, berpendapat bahwa segala hal bisa dilakukan dengan satu alat saja yang kami sudah punya: teflon. Yes, teflon biasa yang harganya nggak mahal juga. Dengan kengawuran saya dalam memasak, pan teflon ini bisa alih fungsi jadi wok, pot, steamer, atau lainnya. Jadi kalau cuma perlu untuk panggang roti, yah itu sih memang sudah apa adanya fungsinya.

Kembali lagi ke pagi hari yang hectic

Meskipun tinggal di pinggiran Jakarta, yang disebut orang-orang adalah planet lain dengan dua matahari saking panasnya, ada empat dari enam isi rumah kami yang hobi sekali mandi pakai air hangat. Sayangnya, hampir 2 tahun terakhir ini water heater belum bisa kembali dipasang sehingga kami harus merebus air dengan kompor setiap mau mandi. Selain itu, ada dua anak dan satu bapak yang tidak terlalu hobi makan salad atau apapun yang tidak dimasak, menambah daftar panjang deskripsi pekerjaan kompor kami. 

Kompor dengan dua tungku ini sibuk sekali, terutama setiap pagi. Menyiapkan sarapan, bekal, dan air panas untuk mandi. Bukan hanya mendidihkan air, tapi juga kepala mamak, terutama kalau tiba-tiba ada request dadakan yang muncul pagi-pagi, semacam: aku nggak mau telur rebus mau pancake aja. Bikin adonannya mungkin nggak seberapa, tapi nungguin manggangnya itu yang perkara, dan kompornya penuh juga. hedeh!

Demi claim punya toaster

Saya mensyukuri banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, satu diantaranya yang paling saya syukuri adalah keputusan impulsif untuk membeli alat panggang sederhana yang ditawarkan oleh salah satu grup Jastip milik anggota ITBm. Niatnya murni membahagiakan suami, meskipun roti-nya tidak bisa lompat keluar sendiri seperti yang ada di angan-angannya, saya sudah bisa claim kita punya toaster-alat untuk membuat roti panggang. Murah meriah, hanya 90 ribu rupiah saja. Dengan sistem pre order, dipesan dari China, dan seperti dugaan, waktu dibuka manualnya tidak bisa saya baca. Sebetulnya saya tidak punya ekspektasi tinggi saat membeli barang ini. Too good to be true, sudah siap kalau sama sekali nggak bisa dipakai, hanya berharap jangan bikin konslet listrik di rumah saja.



Toaster yang dibeli dengan impulsif

Ukurannya kecil, cocok dengan keterbatasan ruang di dapur saya. Meskipun awalnya bingung karena tidak ada tombol dan tulisan keterangan apapun, ternyata penggunaannya sangat mudah. Cukup mengaitkan lempeng alas pemanggang hingga menempel ke besi pemanasnya lalu sambungkan ke sumber listrik. Alat ini akan menyala dengan sendirinya dan mati otomatis ketika suhu sudah terlalu panas (biasanya saat makanan di dalamnya sudah matang). Ada beberapa jenis lempeng pemanggangnya, untuk toaster, takoyaki mini, dan waffle. Karena harus dibeli terpisah saya memutuskan hanya beli dua. Dengan asumsi waffle bisa dibuat dengan cetakan toaster, sungguh emak-emak tidak mau rugi.   

Lifehack: pemanggang serba guna

Karena sudah punya alat ini, here we go! Praktik life hack sarapan praktis yang sering muncul di video iklan sosial media rasanya menjadi lebih dekat dengan kenyataan dan bukan hanya angan-angan. 

Egg-toast adalah percobaan pertama. Sukses besar! semua suka dan makan dengan bahagia. Selanjutnya French-toast, wow hidup terasa lebih mudah. Lebih advance, pancake dan waffle, bisa. Saat iseng saya bikin takoyaki berbagai isi yang dilahap oleh anak kicik dengan penuh suka ria. Tentu saja, selevel dengan alatnya, resepnya juga ala-ala ya, hahaha. Entah semakin jago masak atau semakin ngawur, saya masak telur dadar dan ceplok, juga beef teriyaki, dengan alat ini. 

Akhirnya bisa sarapan dengan menu bervariasi tanpa kepala mamak ngebul. Tanpa banyak berusaha, tidak perlu kompor, dan yang paling penting: bisa ditinggal. Masak dengan teflon juga minim usaha, tapi kita harus selalu ada di depannya. Entah sudah berapa kali makanan gosong karena saya lupa sedang masak dengan teflon. Terbantu sekali ada alat ala-ala ini. Masukkan semua bahan lalu tinggalkan, lima menit kemudian matang.

Ala-ala selalu ada ceritanya

Yah namanya juga barang murah mah, syukur-syukur nggak bikin listrik konslet. Kalau sesekali suka lupa mati saat sudah panas, dimaafkan lah ya. Iya mah, otomatisnya suka nggak jalan tiba-tiba. Memang bukan kehidupan namanya kalau semua berjalan terlalu mudah. Saat semesta kurang bersahabat, atau si toaster ingin istirahat, makanan yang saya masak gosong saat saya tinggal telalu lama. Memang baru sekali sih si toaster ngebul dalam 1 tahun pemakaian ini. Karena sudah sangat berjasa menghilangkan kebulan di kepala, jadi aku tetap cinta.  

Penutup     

Demikianlah cerita singkat dari saya yang dibuat untuk ikut Tantangan MGN Bulan Maret dengan tema life-hack yang mempermudah hidup, semoga menghibur dan barangkali menginspirasi mamah-mamah lainnya.