6/20/2023

Rumah kesayangan, bunker penyimpan sejuta kenangan

Aneh sekali rasanya. Baru sekarang saya menyadari, salah satu hal yang paling menakutkan adalah mengingat kembali kenangan di masa kecil. Berat sekali rasanya untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini. Tapi demi pencapaian hidup paling hakiki tahun ini: tidak bolos setoran tantangan, marilah kita beranikan diri. Meskipun memang benar kata Teh Uril: Tidak sesimpel itu, Ferguso!


 Dan benar saja, baru mulai mengetik paragraf pembuka, saya sudah sesenggukan nggak karuan.

 

Rumah kesayangan

Saya lahir dan menghabiskan masa kecil hingga lulus SMA di Semarang. Tinggal di sebuah rumah pemberian kakek untuk ibu, berlokasi di bagian barat kota, dulu dikelilingi kebun jambu biji. Dulu, di bagian depan penuh sekali dengan tanaman suplir dan kuping gajah koleksi ibu. Biasanya ibu akan bertaring bertanduk ketika ada kucing numpang buah hajat di atasnya atau daun kuping gajah tiba-tiba krowak jadi kudapan ayam tetangga.
welcome home!
Ukuran memang relatif. Saat pindah ke ibu kota dan berkeliling mencari rumah (yang affordable), kusadari ternyata rumah ini besar sekali😂

Tentu saja foto diatas adalah penampakan rumah setelah mengalami banyak perubahan. Konsep rumah tumbuh benar-benar dijalankan oleh orang tua saya. Dulu, di bagian depan hanya ada teras seuprit yang selalu becek kalau hujan dan setiap belajar kelompok di rumah selalu ada teman yang kejengkang. Saking umpel-umpelannya duduk di teras kecil itu😂. Di depan teras ada pohon mangga harum manis. Buahnya manis, besar, dan tentu saja setiap panen cukup untuk dibagikan ke tetangga se-RT. 
 
Bapak dan ibu meletakkan meja kursi kayu di teras itu. Maksudnya semacam modal untuk mengharap doa, ada yang ngapelin anak-anaknya. Sayang, yang terjadi tidak ada proper ngapel yang benar-benar terjadi. Kakak saya punya pacar dan bolak balik diantar mas-mas pulang kerumah saat SMA, tapi rasanya tidak ada yang cukup berani untuk duduk disitu lama-lama sambil diintrogasi orang tua. Saya? nggak pernah punya pacar euy😪. Jadilah kursi teras ini hanya dipakai untuk ngapel oleh kucing-kucing tetangga😂

 

Ruang tamu, arti tetangga untukmu 

Seperti rumah jadul pada umumnya, rumah orang tua saya punya ruang tamu yang cukup longgar. Tamu bisa duduk santai menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol disini. Hangat, akrab, dan nyaman. Tidak seperti rumah saya jaman sekarang yang rata-rata tidak punya ruang tamu.hehehe.
 
monggo, monggo pinarak
Silahkan duduk, kata bapak ibu
 
Memang, mereka sedekat itu dengan tetangga. Saat tinggal disana, yang terlihat hanya tamu datang dan pergi silih berganti. Di ruang ini, bapak saya biasa menerima bimbingan mahasiswa dan ibu saya -yang entah mengapa selalu terpilih jadi bendahara PKK RW- menerima tamu untuk transaksi keuangan. Saat kedua orang tua sudah tiada, baru kami tahu, tetangga-tetangga kami sayang sekali dengan rumah ini. Bahkan posesifnya melebihi kami anak-anaknya yang pernah tinggal disana😂.

 

Kamar, tempatku berubah wujud  

Maaf, bukan mau sombong. Tapi saya termasuk anak berprestasi dulu (perlu bold dengan garis bawah untuk menghindari bias😂). Juara bayi sehat saat batita, juara pesantren ramadhan saat balita dan usia TK, juara murid teladan saat SD, ketua osis dan juara lomba pramuka saat SMP, lanjut juara lomba palang merah remaja saat SMA. Bisa masuk ITB juga bisa dihitung prestasi lah ya, hahaha.
 
Lain di luar lain di dalam. Diluar saya garang tegar dan berprestasi. Di rumah saya anak kolokan yang selalu minta diladeni dan bobok di ketek ibu. Kamar tentu saja menjadi secret comfort zone dimana saya menghabiskan waktu dengan mengunci pintu lalu mengamuk ketika merasa terganggu. Nangis berteriak, nendangi tembok sambil nduduti sprei. Penyebabnya bisa apa saja. Permintaan yang tidak dikabulkan orang tua, ditegur orang tua, atau malas ikut les privat. Guru les sudah datang dan saya kabur mengunci pintu sembunyi di kamar. Teriakan saya ketika ngamuk ini bisa terdengar oleh satu gang RT. Dipikir-pikir kok bisa yaaaa, bapak ibu sabar sekali. Kalau saya yang ada di posisi mereka, rasanya $#!!$#$#%!!!😓.
 
  
Meja belajar di kamar, sekarang ukurannya tampak kecil sekali. Saya bisa menggelar semua buku pelajaran dan latihan soal disini, dulu.
 
Bapak yang selalu self claim bukan sekedar pengajar tapi juga seorang pendidik, selalu menekankan pentingnya meja belajar untuk anak. Kamar dengan meja belajar harus siap sebelum anak masuk sekolah. Belajar, membaca buku, dan menulis di meja dengan posisi tegak duduk di kursi.
 
maaf ya beh, mas masuk SD bulan Juli ini tapi kamar sama meja belajarnya belum siap, jangan marah ya beh. lagi disiapin kok😔.
 
Tentunya bapak yang aliran super jadul belum mengenal konsep sekolah alam dimana anak-anak belajar sambil ndlosor di lantai. Belum tau aliran mana yang lebih baik. Yang jelas, meja ini menjadi saksi bagaimana saya mencapai impian masuk sekolah kebanggaan. Bermodal menghafal jawaban soal karena tidak terlalu pintar, di sinilahsaya menggelar segala buku contoh soal, sambil mendengarkan radio dari boombox. Berharap kecengan kirim lagu dan salam, meskipun dalam kasus ini harapan tak pernah menjadi kenyataan😂.

 

Makan, makanan, kehangatan, dan kegendutan

Makan adalah source of happiness keluarga saya. Bapak ibu hobi makan, dan menurun ke anak-anaknya. Ibu tidak hobi masak. Hanya masak kalau kepepet, itupun menunya indomi rebus dicemplungin sayur atau telur ceplok. Ada asisten yang bertugas masak makanan atau kami jajan keluar kalau ingin makan istimewa. Tidak seperti belajar, bapak menerapkan gaya bebas untuk makan. Meskipun punya meja makan, hanya bapak yang biasa makan disitu. Piring, serbet makan, dan wijikan -kobokan- selalu tersedia untuk bapak. Saya dan kakak lebih sering makan di depan TV, duduk di lantai atau di sofa.
Lauk disajikan di meja makan ini. Tumis buncis intil-intil jantung pisang, mangut manyung, dan terik daging. Kangennya😓
 
Meskipun tanpa table manner bapak ibu selalu mewajibkan kami makan. Harus sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Ibu akan menyuapi saya yang buru-buru pakai seragam dan sepatu sekolah. Entah mengapa tidak ada yang namanya sarapan dengan roti atau oatmeal di jaman itu, jadi menunya nasi atau indomi. Sepulang sekolah segelas susu sudah menunggu di meja makan. Disajikan dengan gelas dunkin donat bulat, berisi susu kental manis dengan campuran serbuk milo yang akan dihujat netizen kalau diberikan ke anak-anak jaman sekarang😂.     
 

A space you call it home

Hari ini, tiba waktunya untuk saya dan kakak melepas rumah kesayangan. Berat sekali rasanya, sedih seperti saat orang tua berpulang, tapi terasa jauh lebih berat karena kita sudah diberi tahu kapan waktunya akan tiba. Terlalu indah untuk diakhiri, tetapi lebih buruk lagi bahkan kalau tidak pernah terjadi. It's not only house, I call it home. Rumah yang meskipun fisiknya nanti tidak ada lagi, tetapi rasa-nya akan selalu ada di hati. Mengisi celah ruang yang tidak pernah akan terganti, kubawa untuk bersanding dengan cerita indah selanjutnya😊.   
 
 

 
 

5/20/2023

Oseng Kerang, seperti Cinta yang Hilang

Cukup menantang juga untuk memikirkan makanan favorit saya. Sulit, karena saya suka makan. Sama seperti teh Anggunbagi saya di dunia ini hanya ada makanan yang enak dan atau enak sekali. Sisanya adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa dimakan dan saya anggap itu bukanlah makanan, hehehe.  

 


Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei 2023 ini memaksa saya untuk mendata ulang makanan-makanan enak kesukaan saya. Menghasilkan daftar panjang, yang mungkin bisa memberikan inspirasi untuk buka usaha kuliner, atau untuk merintis youtube channel bertema makanan enak untukmu mamah.

Proses looping untuk menelusuri daftar panjang makanan enak dan enak banget menghasilkan satu keputusan makanan favorit yang punya cerita dalam kehidupan saya: oseng kerang pedas.


Setelah cukup sulit mencari karena tidak punya koleksi pribadi, sepertinya foto di channel cookpad mbak Dini Rahmawati ini yang paling mewakili

Jatuh Cinta pada Percobaan Pertama

Yup! oseng kerang, bukan tumis kerang. Menurut saya, kata oseng lebih pas untuk menggambarkan bagaimana citra rasa masakan ini. Sangat njowo dan ndeso. Dimasak dengan wajan tua yang pantatnya gosong dan menimbulkan aroma sangit. Wajannya bekas memasak berbagai rupa makanan lainnya dan entah sudah berapa hari tidak dicuci😆.  Jelas, yang model begini memperkaya khasanah rasa. Gurih, pedas, manis, dengan aroma bumbu dapur komplit khas masakan jawa. Melekoh, kalau kata Ibu saya.

Saya pertama kali makan oseng kerang ini di Semarang, kota masa kecil saya. Memang, selain terkenal dengan soto ayam, Semarang juga dikenal dengan masakan kerangnya. Kota Semarang memang dekat laut. Anehnya, saya lebih sering makan ikan bandeng, mujaer, atau lele. Pokoknya ikan-ikan yang didapat bukan dari laut. Selain itu, ada juga sih mangut. Tapi masakan ini menggunakan bahan dasar ikan manyung atau iwak pe (ikan pari) yang diasap. Jauh dari bayangan seafood fresh from the ocean, hehehe.

Satu-satunya makanan laut segar yang cukup mudah ditemui di Semarang adalah kerang. Saya jatuh cinta dengan oseng kerang yang dibawa oleh Ibu sepulang mengajar di SMA 13 Semarang. Dibeli dari warung kecil di area Mijen. Selain oseng kerang, ada juga belut pedas. Saya masih usia SD kala itu, hah heh hoh kepedesan, tapi entah mengapa enak sekali dua masakan ini. Bisa nambah nasi berkali-kali, mungkin juga ini yang menjadikan saya anak SD kategori ginok-ginok pada jamannya.

Bertemu lagi di Bandung

Saat kuliah di Bandung, tentu saja saya tidak lagi bisa menikmati sajian kerang pedas yang dibeli di Mijen. Terlalu jauh, dan saat itu belum ada P**el yang bisa kirim frozen food dalam semalam sampai. Kalaupun sudah ada, tentunya ibu saya lebih memilih mengantarkannya sendiri sembari sidak anak mahasiswa yang cuma jawab sekecap kecap kalau ditelepon tiap hari😢. Karena tinggal jauh dari kampus dan belum menyadari besarnya penghematan uang bila bawa bekal makan siang dari rumah, tentunya setiap hari saya lalui dengan jajan. ke Kantin Bengkok atau Tambang kalau sedang punya uang, lari ke Salman kalau akhir bulan, dan mengiba ke CC barat bagian kemahasiswaan untuk minta kupon makan kalau sedang super penghematan. 

Alangkah bahagianya saya hari itu, ketika menyambangi kantin Salman dan ada lauk kerang pedas kesukaan saya. Rasa duo bawang, cabai yang menggigit, aroma lengkuas dan sereh, serta rasa manis yang ringan. Semakin bahagia karena setelah sampai di kasir saya hanya perlu bayar delapan ribu rupiah. Sudah dapat sepiring besar oseng kerang dan sayur sup tanpa bakso. Perfect Combo!

Di lain kesempatan, saya pergi lagi ke kantin Salman dengan harapan bertemu si kerang pedas pujaan hati. Sayang sekali, dia tak muncul lagi, mungkin se-ITB hanya saya yang doyan kerang pedas😕. 

Selain di dalam kampus, saya juga hobi makan di sekitaran Dago. Bukan, bukan mau gegayaan. Alasannya cuma karena saya rajin numpang duduk atau tidur di kos teman saya, menunggu kelas selanjutnya yang terkadang jedanya cukup panjang tetapi nanggung untuk pulang ke rumah yang jauh. Kos teman saya ada di dekat Warteg Kharisma Bahari, jadilah saya cukup sering keluar masuk warteg ini. Disinilah saya menemukan kembali oseng kerang kesukaan saya. Masakan warteg khas jawa yang rasanya cenderung manis, dan tentunya dengan harga ramah di kantong. Beberapa hari berikutnya, saat saya kembali makan di warteg ini, oseng kerang konsisten selalu ada. Sejak saat itulah saya baru sadar, ternyata oseng kerang pedas kesukaan saya adalah makanan khas warteg😁. 

Pencarian Panjang di Ibu Kota

Mudah sekali untuk menjumpai warteg di Jakarta. Teringat kembali pada oseng kerang pedas dan berbekal keyakinan bahwa masakan ini adalah menu wajib yang ada di warteg, masuklah saya ke satu warteg di daerah Jakarta Selatan. Hore, ada oseng kerang pedas! hap hap hap, tanpa banyak berpikir, saya makan dengan lahap. Sepiring besar nasi dengan oseng kerang pedas dan sup sayur. Ditambah es teh, rasanya menyenangkan sekali. Mengulang kembali perasaan bahagia ketika makan di kantin Salman dan di Dago. Citra rasa otentik yang saya yakini kebenarannya, karena kelihatan sekilas bagian belakang warteg ini jorok sekali. 

Namun sodara-sodara, kebahagiaan tak selalu bisa berlangsung selamanya. Dua hari setelahnya, saya sakit perut dan diare akut. Ibukota mengajarkan kepada saya, bahwa serupa tapi tak sama itu memang benar adanya😂.

Mencoba Peruntungan

Minggu lalu saya pulang terlambat dari kantor. Karena macet luar biasa, saya putuskan untuk turun bus lebih awal. Berjalan kaki dengan perut lapar, saya tertarik untuk masuk ke sebuah warteg yang ada di pinggir jalan. Tertulis besar-besar di depannya: Resto Warteg Kharisma Bahari, Resto ala Warteg.

Wah, menarik. Barangkali ada oseng kerang kesukaan saya, semoga tanpa drama sakit perut. Dilihat sekilas dapur di belakang arena penyajian sangat bersih. Bangunannya juga dicat apik dengan bangku-bangku baru. Tidak seperti warteg biasanya. Sayangnya, yang ini bukan warteg yang sesungguhnya. Tidak ada oseng kerang kesayangan saya disana😪.

Penutup

Demikianlah cerita saya menjelang deadline. Merupakan prestasi untuk saya bisa bertahan tidak ikut ketiduran di saat anak-anak sudah tidur. Semoga bisa konsisten untuk ikut tantangan setiap bulan dan yang terpenting, semoga menghibur mamah-mamah semua yaa.