7/21/2015

Cipali dan Warung Sambal Tumpang

Halo! Selamat lebaran! Mari bermaafan, maafkan saya yang lupa komitmen posting 1 bulan sekali 2 bulan terakhir :P

Tahun ini bidang permudikan Indonesia mengalami kemajuan pesat. Tol Cipali sudah dibuka, menghubungkan cikampek hingga pemalang, mereduksi waktu tempuh jakarta- semarang yang tadinya 8 jam hingga hanya 6 jam saja.

Saya dan orang tua saya memutuskan menjajal tol ini di perjalanan pulang dari bandung ke semarang. Alih menikmati empal gentong di tengah kota, kami belok masuk ke dalam Tol Cipali di Cirebon.

Mulusnya jalan membuat ayah saya lupa diri sedang menyupir mobil tua merk rakyat jelata, alih-alih merk blade putih yang membelah langit biru. Mulus jalannya boleh lah, meskipun pepohonan belum ada, jadi panasnya luar biasa.

Belum setengah jam terbang melayang di atas jalan mulus, di depan mata terhampar rentetan mobil yang mengantri meliuk mengikuti alur jalan tol. Mobil berhenti, maju sepanjang 5 meter kira-kira setiap 1 menit sekali. Sudah ada tol sepanjang ini, apa pula yang bikin macet?!

Hampir 2 jam mobil merayapa. Setelah mobil ayah saya berhasil merengsek semakin maju ke depan, diketahuilah, sumber dari segala kesulitan hidup ini ternyata adalah gerbang tol.

Yak, tak terhitung banyaknya gerbang tol yang dibuka. Tapi coba lihat pelayanannya.

Tidak ada papan harga, adanya hanya papan "siapkan uang pas". Lha pas-nya itu berapa?

Begitu saya saya menyodorkan 20ribu, mbak loket bingung mencari kembalian. Biaya tol adalah 7ribu.Mbak loket harus mengembalikan 13 ribu ke ayah saya.

Setelah kutrek-kutrek laci, kepala mbak loket nongol, "Pak, nggak ada uang pas?", "Nggak ada, jawab ayah saya".

Kepala mbak loket masuk dan kembalik ngutrek laci, lalu nongol lagi. "seribuan ada nggak?"

Bak bapak-bapak yang sedang antri dibikinkan roasted chicken di diner dash, muka ayah saya sudah memerah dengan alis naik dan dahi berkerut. Kalau sampai mbak loket nggak nongol-nongol juga, terabas palang tol :)))))

Semenit kemudian,

"Terima kasih Pak," -> pintu palang dibuka

Alamak, bos mbak loket ini sedang diwawancara di tv. Katanya, kami sudah menambah gerbang tol *mungkin setelah ini bisa lebih dipikirkan kualitasnya juga daripada hanya kuantitas ya pak. Tuker uang kencreng ke BI dulu lah pak sebelum jaman mudik :)))))

Macem mana pengelola tol kalah sama pengelola warung sambal tumpang di kampung ayah saya. Mengantisipasi lonjakan pembeli, pengelola warung menambah kursi dan meja di luar warung, menambah pegawai, dan paling top adalah:

mereka membuat semacam split tempat pembelian buburnya. Jadi antrian pembeli terbagi 2 spot *tepuk tepuk

Semua pembeli terlayani dengan cepat dan relatif mendapatkan pesanan persis seperti yang mereka pesan. Nyah, mungkin orang-orang di kota kadang perlu benchmarking ke desa -_-"

1 komentar:

DIDI SPDI mengatakan...

Seru ya , entar tahun depan aku ikut sama kamu deh ,boleh gk ? Hehe