10/31/2021

Komunitas Tanpa Syarat yang Mengikat Erat

Saya dibesarkan oleh orang tua yang menganut aliran "ojo neko-neko": on track, nggak usah aneh-aneh, hidup yang biasa saja. Kamu sekolah bener, berkecukupan, jangan berlebihan, dan tidak perlu ngoyo. Sebetulnya maksud ngoyo versi orang tua saya disini mirip dengan definisi KBBI: memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan, kondisi, dan waktu. Sayangnya, saya kebablasan menginterpretasikan petuah ojo ngoyo ini. 

Mempertimbangkan setiap keinginan, saking terlalu banyaknya pertimbangan, sampai-sampai enggan melangkah. Karena terbiasa meredam keinginan, saat ini, saya ada di titik tidak punya fanatisme terhadap apapun. Jangankan fanatisme partai politik, ditanya hobipun saya bingung­čść. Suami saya adalah orang yang paling prihatin menyadari bahwa dirinya menikahi butiran debu, tentu saja bukan karena berat badan saya yang mirip butiran debu-sungguh saya jauh dari itu- tapi lebih karena istrinya ini hanya menjalani hidup dengan melayang-layang, tidak tahu sukanya apa, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri, melayang-layang saja. Well, mungkin dibanding butiran, kondisi saya lebih mirip gumpalan. Ya, gumpalan debu yang menggeletak dilantai, hanya bergerak ketika disapu.

Sumber: https://www.cbc.ca/radio/quirks/

Saya rasa, karena tidak punya hobi ini lah, saya jarang bisa eksis di komunitas. Lebih tepatnya, untuk menentukan komunitas mana yang saya ingin ikuti pun saya bingung.hahaha. Beruntungnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang dengan baik hati menawarkan beberapa ide berkomunitas dan setelah bergabung saya merasa senang. Senang bukan berarti saya jadi memukau di dalamnya. Karena saya bukan tipikal manusia berbakat charming, perlu usaha khusus untuk bisa menonjol. Masalahnya, saya tidak punya energi untuk ngoyo melalukan itu

Selain tidak punya hobi, saya juga merasa tidak sanggup untuk berkomitmen. Bukan tidak mau, tetapi karena merasa belum punya time management yang baik -membuat saya jiper duluan ketika menjanjikan sesuatu. Saya menghindari komunitas-komunitas yang mengharuskan saya melakukan sesuatu, dan saya merasa lebih nyaman berada di komunitas yang memungkinkan anggotanya berada dalam silent mode-mode sunyi, membaca atau mengamati saja tapi sewaktu-waktu ingin berbicara bisa mengaktifkan microphone. Tentunya orang-orang seperti saya ini bukan tipikal yang diminati oleh admin-admin komunitas, ibarat sedang rapat online, kalau isinya orang-orang seperti saya, pemimpin rapatnya harus teriak teriak menghalau semua orang untuk menyalakan video dan menekan tombol unmute microphone.

meeting online

Meskipun tidak punya hobi, saya-menurut cukup banyak orang- adalah orang yang peduli dan SKSD-sok kenal sok dekat. Bukan saya yang sok kenal lalu dekat-dekat ya, tapi banyak orang yang baru kenal dengan saya, lalu merasa sudah dekat. Karena itulah, selain di komunitas yang legowo dengan kesunyian anggotanya, saya cenderung dapat bertahan dengan baik dalam komunitas yang anggotanya perlu non-block party, alias sedang berseteru dan perlu pihak yang tidak memihak. Komunitas tempat tinggal saya yang terdahulu adalah salah satu contohnya. 

Saya, sebagai satu-satunya ibu-ibu berusia kurang dari 30 tahun saat itu, hidup sebagai pendatang baru, bertetangga dengan bapak ibu yang usia-nya sekitaran orang tua saya. Alih-alih di-emong, saya menjadi tempat berlabuh curahan hati ibu ketua RT yang pusing mengatur warga. Keesokan harinya, bapak ibu sepuh yang curhat ke saya sebagai warga. Begitu seterusnya, bergantian. Tentunya menjadi bagian dari komunitas yang seperti ini bukanlah sesuatu yang saya inginkan, tapi lebih kepada kewajiban. Mau nggak mau, karena tinggal disitu, yah terima saja lah.

Karakter saya ini sebetulnya sudah saya sadari sejak SD dan berlanjut ke SMP lalu SMA. Semasa sekolah, saya adalah siswa yang aktif berorganisasi. Pramuka, Palang Merah Remaja, Kegiatan Ilmiah Remaja, bahkan saya menjadi ketua OSIS ketika SMP. Bukan, bukan karena saya hobi berorganisasi. Tetapi, lebih karena saya merasa mengikuti semua organisasi dan berprestasi di dalamnya adalah suatu bagian dari menjalani kehidupan lurus tidak neko-neko ala orang tua saya. Sifat "tidak punya passion" membuat saya menjadi anggota yang biasa-biasa saja di setiap organisasi tersebut. Tetapi, karakter mudah akrab membuat saya memiliki hubungan personal yang relatif dekat dengan banyak sekali orang di organisasi tersebut. Bisa dikatakan, bila sedang kumpul bersama saya diam saja, atau bahkan saya sering kali tidak ikut kumpul-kumpulnya. Tetapi, begitu ada sesuatu, orang-orang tersebut akan menghubungi saya secara personal, meminta tolong, meminta saran, atau sekedar curhat. Kondisi ini berlanjut hingga sekarang, saat saya dan teman-teman sekolah tidak pernah bertemu lagi. Sebaliknya, meskipun di dalam perkumpulan komunitas saya malu-malu kucing, ketika butuh bantuan, saya tidak merasa segan untuk menghubungi orang-orang tersebut dan mereka dengan tangan terbuka membantu saya.

Lepas SMA, masuk ke ITB membuat mata saya terbuka, bahwa ada sekian juta bentuk dan karakter manusia yang belum pernah saya lihat sebelumnya, begitu juga komunitasnya. Saat kuliah, sifat tidak ngoyo membuat saya tidak mudah diterima oleh banyak komunitas. Saya lahir dan besar di Semarang. Masuk ke komunitas anak-anak Jakarta tidak cocok, karena suara saya medhok. Tetapi, mencoba akrab dengan komunitas Jawa juga canggung karena begitu mereka bicara bahasa Jawa saya hanya bisa menimpali dengan mesam mesem. Cerita kehidupan saya dengan bahasa Jawa mirip-mirip cerita kakak saya. Ibu saya orang Sunda dan setiap lebaran saya beredar dari satu rumah ke rumah lainnya, mendengarkan percakapan bahasa Sunda. Tapi, begitu harus bergabung ke komunitas Sunda di kampus, aduh rasanya mendekat ke pintu sekre-nya saja sudah tak sanggup, takut belum apa-apa sudah disuruh bilang peuyeum.


Peuyeum dan Cimbeuleuit: 2 kata yang selalu berusaha dilatih oleh ibu saya setiap menjelang lebaran agar saat bertemu saudara tidak dikira bawa-bawa anak tetangga dari Jawa 

sumber: https://anantoep.wordpress.com/2011/07/02/rute-angkutan-umum-angkot-bandung-gambar/; https://www.kompas.com/food/read/2020/06/19/131344875/4-cara-membedakan-tapai-singkong-dan-peuyeum?page=all

Dengan pakem jangan ngoyo, saya tidak melanjutkan proses pencarian jatidiri komunitas ini dan memutuskan melanjutkan hidup apa adanya. Sejak TPB, atas saran kakak, saya bergabung di komunitas majalah kampus Boulevard ITB. Tapi lagi-lagi, karena saya tidak mahir menulis dan selalu ketiduran saat membaca, meskipun menjabat posisi pemimpin redaksi, saya tidak menjadi kontributor ataupun editor yang handal bagi Boulevard kala itu. 

Selanjutnya, saat masuk tingkat II dan kegiatan himpunan mulai heboh, saya bergeser mendekat kepada golongan sejenis saya: orang-orang yang rumahnya jauh dan susah pulang tengah malam karena tidak punya kendaraan pribadi. 

Selama kuliah di ITB, saya tinggal di rumah bude,  berjarak sekitar 7 KM dari kampus. Pulang pergi rumah-kampus mengharuskan saya menyandarkan hidup pada mamang angkot yang hobi ngetem (tentu saja penumpang yang kuliah  jam 7 pagi, di GKU Timur ruang 4XXX, dengan dosen yang kurang bersahaja, dan bangun kesiangan pula, bukanlah urusan mereka). Angkot di jalur yang saya lewati hanya beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 20.00 WIB. Diluar itu, adaaaa sih tapi sangat tergantung pada keberuntungan Anda. Bila sedang ikut acara himpunan dan jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB, saya dan teman-teman yang senasib sepenanggungan ini sudah mulai tak bisa duduk tenang. Kusak kusuk kanan kiri, ngedumel kenapa rapatnya nggak selesai-selesai

Karena kebutuhan pribadi berangkot ria dan menyuarakan kegiatan himpunan jangan terlalu malam-atau minimal jangan lupa antarkan kami pulang- inilah saya semakin dekat dengan beberapa orang teman kuliah saya. Beberapa diantaranya memang asli bandung dan tinggal di rumah yang searah dengan lokasi rumah bude saya, membuat kami punya waktu kongkow bersama di dalam angkot. Kalau sedang macet, satu atau dua, bahkan pernah 3 jam terjebak di jalanan, bisa dibayangkan banyaknya waktu yang kami habiskan bersama. hahaha.

 
Angkot Ledeng-Cicaheum, tempat kami kongkow bersama dimulai dari sini.hahaha
 
https://jabar.tribunnews.com/2017/10/11/sebelum-melakukan-aksi-demo-sopir-angkot-di-terminal-cicaheum-tetap-cari-penumpang

Kehidupan kuliah dengan kesibukan acara himpunan terus berjalan dan membuat saya dekat dengan beberapa orang lainnya, yang juga merasa kurang nyaman pulang malam. Selain 3 orang sesama pengguna angkot Caheum-Ledeng, ada 7 orang lainnya yang akhirnya juga menjadi lingkaran kecil kehidupan pertemanan saya. Terdiri dari dua orang Bandung yang juga tidak punya kendaraan pribadi; Satu orang Bandung yang punya motor tapi tipikal alim ulama -ogah pulang malam khawatir subuh kesiangan; Satu orang Jawa tapi tinggal di Lampung -dewasa sekali jadi setiap harus pulang malam gelisah khawatir teman-temannya masuk angin; Satu orang bekasi, tidak punya kendaraan dan jadwal himpunan selalu bentrok dengan jadwal MBWG; dan Satu orang Jakarta yang punya kendaraan pribadi, kos dekat kampus, dan saya juga bingung kenapa dia bergabung disini, huahaha.

Menulis tentang komunitas membuat pikiran saya menerawang. Saya tidak punya komunitas favorit, tetapi mengingat suka duka kehidupan, saya jadi tersadar komunitas ternyaman saya adalah yang paling sering hadir dalam setiap episode kehidupan saya. Menjalani kehidupan kuliah, meskipun saya juga cukup dekat dengan beberapa teman satu angkatan lainnya, bisa dibilang dengan 9 orang inilah saya paling banyak menghabiskan waktu. Entah bersama semuanya, atau hanya dengan 1-2 orang diantaranya. Mengerjakan tugas, belajar saat akan ujian, jajan kuliner, main ke mall, tracking ala-ala, atau sekedar ngobrol. Tentu saja sebagian besar diantara mereka rela pernah menampung saya menginap berhari-hari di kos-nya. 

Ulang tahun saat kuliah menjadi istimewa karena mereka-lah yang entah bagaimana caranya selalu ingat saja untuk memberi kejutan. Sebagai "anggota" perempuan pertama yang akhirnya menikah, mereka merancang bridal shower untuk saya. Selanjutnya, mereka beramai-ramai datang ke Semarang untuk menghadiri pernikahan saya. Heboh! Maklum, kami golongan orang-orang yang susah tidak punya pacar selama kuliah. Tentu saja, selain piala bergilir angkatan, kami juga punya piala menikah "geng"-yang ketika dilihat lagi sekarang, betapa alay-nya piala ini. 

Piala bergilir geng "After huricance, comes rainbow": Setelah berpuluh tahun hidup menjomblo akhirnya bahagia bisa menikah. Kalau sekarang dibahas lagi, tidak ada satupun dari kami yang mau mengakui diri mencetuskan ide slogan alay ini. hahahahaha

Memasuki detik-detik menjelang melahirkan anak pertama, 9 orang kawanan inilah yang paling sibuk ngoceh di grup whatsapp: berdoa, berharap cemas, sambil tebak-tebakan nama anak saya dan wajahnya akan mirip siapa. Sementara saya yang sedang diinduksi kala itu bisa-bisanya malah tidur nyenyak ditemani suami saya yang maksudnya mau siaga tapi malah mendengkur lebih kencang dari saya. Ketika anak pertama lahir, kawanan om tante inilah yang dengan sangat excited mengatur pertemuan- hanya untuk menyimpulkan akhirnya anak saya mirip siapa. Setelah saya, satu per satu teman lainnya menikah, dan setiap acara pernikahan itu menjadi moment yang istimewa dimana saya merasa sangat wajib untuk hadir.    

Komunitas terdekat saya ini bukan hanya tempat terbaik untuk tertawa bersama, tetapi juga paling siaga saat saya berduka. Enam bulan setelah melahirkan anak pertama, ibu saya meninggalkan dunia untuk selamanya. Ketika ibu saya meninggal, tentu saja yang terpikir adalah memberi tahu salah satu dari 9 orang ini. Jangan ditanya kecepatan mereka dalam menyebarkan berita. Wuss wuss wuss, lintas kota lintas provinsi, bahkan sampai ke luar negeri. Menyusul kemudian beberapa hari selanjutnya pesan pendek tiada henti dari mereka, memastikan saya yang jelas sedang tidak baik-baik saja, berada dalam kondisi terbaik saya. Berpulangnya ibu yang cukup mendadak menjadi titik terendah dalam hidup saya. Untungnya, ada bayi lucu yang menunggu untuk segera diurus kembali, dan grup whatsapp geng yang setia memberikan lawakan menghibur di setiap saya ingin menangis lagi.

Setelah hampir 9 tahun jarang berjumpa, ternyata mereka masih menjadi pendukung terkuat saya saat dirundung awan mendung. Awal tahun 2021 merupakan tahun yang sangat menempa saya untuk tumbuh kuat. Hampir 3 bulan pasca melahirkan anak kedua, saya dinyatakan positif Covid. Bergegas pindah ke rumah yang ada di pinggiran kota Jakarta adalah pilihan satu-satunya, mengingat saat itu saya tinggal di tengah Kota Jakarta yang lumayan padat dan berjarak sangat dekat dengan tetangga. 

Double masker  24 jam, handsanitizer selalu ditangan, dan entah berapa menit sekali saya cuci tangan. Semua itu menjadi suatu kewajiban karena saya harus tetap menyusui bayi kecil saya yang tidak bisa minum susu formula. ASIP? jangan ditanya. Kondisi sehat saja ASIP pas-pasan, begitu sakit dan stress, mencoba memerah sampai perih sana sini, keluar setetes pun tidak. Saya menjalani isolasi dengan kondisi tetap mengurus kedua anak saya. Tidak semua pasien Covid bisa cukup istirahat. Saya di kala itu ingin minum saja sulit karena harus naik ke lantai atas, masuk kamar isolasi, dan baru bisa buka masker. Saat pasien Covid cenderung dijauhi saat itu, tidak dipungkiri, kelakuan 9 orang teman inilah yang menjadi salah satu booster recovery paling manjur untuk saya. 

"Eh Gimana kabarnya?"
                                                                  "nggak sesak kan?"
               "Pengen makan apa?"
                                    "Anak lo mau makan apa?"
                                                                               "Vitamin udah ada belum?"
       oxymeter? 
                         habbatussaudah? 
                                                        obat cina?  
           teh herbal?  
                                                                                            madu? masker?"
"sarung tangan?"                          "mukena udah ada buat ganti?"

                                 "baju, kerudung udah cukup belum? jangan lupa rajin ganti"

Di tengah berjuang memaksakan tetap makan meskipun rasa tidak karu-karuan, saya mulai mempertanyakan hidup. Apakah betul saya masuk dan berteman dengan anak-anak ITB, atau sebetulnya mereka ini para pemilik kios di tanah abang yang selama ini mencoba mendekati saya untuk membangun pasar bagi usahanya­čśé. Berbagai tawaran ini saya tolak dan sebagai gantinya saya minta mereka ngelawak saja, itu yang paling membantu penyembuhan sebetulnya,hahaha. 

Selang 10 hari saya menjalani isolasi mandiri, rumah yang saya tinggali untuk karantina dibobol pencuri. Laptop milik suami yang menjadi satu-satunya hiburan mendampingi istri yang sedang frustasi, laptop kantor, handphone kantor, beberapa tas, uang, bahkan sebuah Al Quran besar yang menjadi penenang menjalani ujian karantina, diangkut pencuri. 

                 Ujian apa lagi ini?

Saat pikiran berkecamuk kesana kemari, sambil mencoba menenangkan diri, kembali saya update kondisi kepada teman kongkow yang memang tidak pernah absen tanya bagaimana kondisi saya, Maklum, saya orang pertama yang kena Covid dalam komunitas itu. Kali ini, tanpa banyak bertanya, mereka kembali membuka "Dompet peduli Ririn". Tidak terbayang rasanya bagaimana saya ingin menangis, bukan karena barang-barang saya hilang, tapi ketika menerima "sumbangan" dari teman-teman saya ini. Lebih dari sekedar memperingan beban ekonomi yang sudah terhimpit akibat tetek bengek isolasi, dukungan ini menyadarkan kembali bahwa "masih ada yang peduli dengan saya, dan saya juga harus ada untuk mereka".

Sebulan kemduian, saya dinyatakan negatif. Pesan singkat dari kawanan erat ini masih menemani saya, menjalani hari-hari awal kembali bekerja, setelah 3 bulan maternity leave yang diperpanjang dengan 1 bulan isolasi mandiri. Mencoba bangkit, masih terseok-seok karena supporting system belum sepenuhnya bekerja. Satu bulan saya menjalani masa pemulihan ini. Pemulihan fisik, dan tentunya mental. Long covid effect tentu saja masih ada. Saat isolasi mandiri saya survive dengan berada di rumah saja, seminggu setelah dinyatakan negatif saya harus bolak balik IGD karena asam lambung naik dan diare. Tapi, diluar itu, saya merasa pemulihan batin inilah yang menjadi tantangannya, dan disinilah fungsi komunitas terdekat saya kembali bekerja. Sebuah pertemuan online sengaja diadakan dengan judul "berbagi lesson learned Covid dan menjenguk Ririn"-saya baru sadar kalau mereka bisa so sweet seperti ini.

Belum cukup tegak untuk berdiri, dunia kembali menghempaskan saya. Selang 1 bulan saya menjalani tahap recovery, giliran bapak saya yang terserang Covid. Usia lanjut dan kondisi fisik yang tidak fit membuat bapak menyerah pada Covid hanya dalam 2 minggu saja. Dua minggu paling berat dalam kehidupan saya dan kakak. Membujuk bapak untuk kerumah sakit, memantau kondisi bapak dan mencoba mencukupi kebutuhannya dari jarak jauh, berusaha merujuk bapak ke rumah sakit rujukan covid, mencari donor plasma, hingga pemakaman, tak terbayang sebelumnya saya akan merasakan pengalaman ini. Pengalaman yang bisa saya gambarkan dalam 1 kalimat pendek: menurunkan berat badan hingga 10 kg hanya dalam 2 minggu. 

Seperti sebelumnya, kesembilan orang ini menjadi tim sukses paling giat menanyakan kabar, membantu mencari kontak donor, dan lain sebagainya. Dan untuk kesekian kalinya, Dompet Peduli Ririn dibuka kembali. Saya yakin bukan hanya saya yang merana, tetapi teman-teman saya juga. Berapa kali mereka harus mengulurkan tangan untuk saya. Sungguh saya berdoa, semoga semua itu menjadi amal mereka yang berbalas berkali-kali lipat. 

Hehh... (nafas berat

Diluar merenungi ujian demi ujian kehidupan, saya merasa sangat beruntung dikelilingi 9 orang ini. Grup whatsapp sering kali sunyi, tetapi di saat ada yang memulai pembicaraan, disitulah gelak tawa mengalir. Sekedar bertanya update vaksin kepada teman yang bekerja di Biofarma, atau complain mengapa tagihan listrik tidak turun padahal sudah bela-belain kepanasan nggak pakai AC di tengah hari demi ngirit kepada teman saya yang bekerja di PLN-padahal dia di bagian pembangkit dan tidak tahu menahu pekara meteran listrik­čśé.

Komunitas terdekat saya

Komunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sekelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. Saya tidak tahu apakah interaksi tanpa tujuan seperti yang terjadi di antara saya dan 9 orang teman saya ini termasuk dalam definisi komunitas atau tidak. Namun, agar hidup lebih bermakna dari sekedar tertawa-tawa, saya mencoba bergabung ke dalam beberapa komunitas yang memacu saya untuk menemukan kembali hobi saya. 



Mamah Gajah Ngeblog (MGN) adalah salah satu komunitas yang berhasil membuat saya bangun, meninggalkan keengganan saya untuk melakukan sesuatu. Karena bergabung dalam komunitas ini, saya membaca begitu banyak tulisan hebat dan menyimak percakapan penuh informasi yang disampaikan dengan ringan sekali di grup whatsapp. Sebagai hasilnya, tulisan ini dibuat. Tentunya, untuk mengikuti tantangan Mamah Gajah Ngeblog Bulan Oktober dengan tema Komunitas yang paling aku cintai. Ikut tantangan bulanan bagi saya juga menjadi satu kunci tersendiri. Berhasil menulis dalam tenggat waktu yang ditentukan adalah suatu prestasi bagi saya. Bangga, bahwa saya bisa menjalani hidup dengan cara yang lebih bermakna dari sekedar rebahan. hehehe!


Referensi:












    





       

   







  

2 komentar:

Sri Nurilla mengatakan...

Rasanya campur aduk membaca tulisan Ririn. Definisi 'what doesnt kill you makes you stronger'. Tabah, kuat, survivor sejati. Dan itu pun bisa dicapai dengan bantuan 9 sahabat terdekat, alhamdulillah.

Sedih dan mengharukan kisah Ririn.

Risna mengatakan...

Aku baru tau kalau ada ketua OSIS yang ternyata tidak merasa bisa berkomunitas dan sebenernya butiran debu. Kupikir yang biasanya jadi ketua OSIS itu emang orang yang suka berorganisasi dan berkomunitas loh.

Tapi, membaca kisah persahabatan 9 orang yang berawal dari naik angkot bareng ini sungguh unik. Hebat sekali bisa bertahan dan tetap saling memperhatikan satu sama lain.

Oh ya, membaca tulisan ini aku jadi bisa melihat fungsi komunitas di masa pandemi ini. Misalnya saja Komunitas Mamah Gajah Ngeblog ini bisa merasa dekat di hati walaupun jauh di mata dan belum pernah saling bertemu.

Ayo mbak, semoga tetap semangat berbagi cerita dan menulis di blog nya ya, biar semakin merasa nyaman dengan komunitas MGN juga.