5/20/2024

Membandingkan Manusia: 1 dari 1000 cerita di kepala saya

Suka deh saya dengan teman bulan ini. Perbandingan. Banyak sekali yang bisa dibandingkan, dan kebanyakan manusia memang hobinya membanding-bandingkan. Terutama saya. Sering kali perlu introspeksi, jangan terlalu sibuk membandingkan karena jadi pusing sendiri,hahaha. Khusus untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei bertema Perbandingan (Versus)Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei bertema Perbandingan (Versus), terima kasih sudah memfasilitasi hobi saya untuk membanding-bandingkan.



Kali ini saya ingin cerita isi kepala saya tentang perbedaan manusia dalam memaknai kehidupan #sungguh berat.hahaha. Di antara sekian banyak aspek kehidupan yang bisa dipandang dengan sangat berbeda oleh setiap orang, kali ini saya ingin membahas sudut pandang terhadap pernikahan, hamil, dan punya anak. Sangat terkait dengan Mamah lah pokoknya.

Perbedaan Pandangan terhadap Anak

Banyak anak, siapa takut 
sumber foto: nalarpolotik.com


Setelah 3 bulan harus mengurus rumah dengan kondisi hamil, mengasuh 1 balita, dan tetap bekerja karena pandemi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari 1 orang asisten.

"Ibu, hamil anak kedua ini betul-betul mau hamil? Apa nggak sengaja?," begitu pertanyaan pertama dari ibu asisten yang baru kerja 2 hari di rumah saya. 

Saya heran bukan main dengan pertanyaan ini. Kalau anak pertama, dan tidak ada suaminya, mungkin lah dia curiga saya tekdung sebelum menikah. Tapi ini anak kedua dan suami saya pulang ke rumah setiap hari setelah bekerja, bisa dilihat ada loh bapaknya.

Selang beberapa hari ibu ini bekerja di rumah, saya baru tahu, kalau beliau ini punya 6 orang anak. Agak kaget juga, karena usianya baru akan mendekati 40 saat itu. Tidak bisa KB katanya. 

"Kenapa?," tanya saya penasaran. 

"Katanya bahaya buat badan kita bu. Bikin badan sakit sekali. Ibu juga jangan ya bu, ngeri". 

"Loh, kata siapa yang bilang gitu?," sungguh saya merasa kurang sopan. Ingin tahu dapur orang lain yang baru kenal seminggu. Tapi saya benar-benar ingin tahu, dan prihatin.

Punya anak dalam persepsi saya bukan perkara main-main. Memang betul anak datang dengan rejeki masing-masing. Tapi sebelum berserah diri kita juga harus berupaya, kan? Memikirkan bagaimana saya akan memelihara anak adalah salah satu upaya yang bisa saya lakukan. Memastikan titipan Tuhan ini saya jaga dengan sebaik-baiknya, paling tidak ada dalam batas kemampuan saya. Perkara betul kejadian atau di luar rencana, barulah pasrah saja sambil terus berdoa.

Untuk saya, anak adalah subyek dan bukan obyek. Anak adalah variabel bebas yang mengikat variabel lainnya, bukan sebaliknya. Menggunakan kontrol kelahiran atau tidak menurut saya berangkat dari keputusan merencanakan berapa jumlah anak, lalu sisanya lah yang mengikuti. Termasuk rasa sakit yang "katanya" harus ditanggung oleh bapak dan ibunya. Minum aspirin atau paracetamol tiap hari, bisa lah diatur nanti.

Makin prihatin saya ketika mendengar cerita, bahwa dari keenam anaknya itu 1 anak hampir buta dan bolak balik harus operasi mata, dan belakangan 1 anak terdiagnosa penyakit darah akut. Kalau sudah nasib memang betul tidak pernah ada yang tahu. Tapi saya bertanya-tanya, dengan sumber daya yang sama, kalau saja jumlahnya lebih sedkit, mungkin kualitas yang diberikan bisa bertambah.

Masa Kehamilan yang Berbeda

Awal dari perjalanan panjang yang berarti
sumber foto:momfuse.com

Karena berencana punya anak dengan kesadaran yang sepenuhnya, saya sadar pula akan melewati tahapan hamil. Untuk saya, fase kehamilan ini betul-betul harus dijaga, dan tentunya jadi variabel pengikat, sama dengan anak. 

Makanan yang saya makan, saya suka atau tidak suka, diatur oleh kebutuhan kehamilan saya. Tidak jajan dan irit pooool, semua diatur demi bisa menjamin biaya lahiran di tempat terbaik yang bisa diusahakan. Makan setiap hari dengan tempe goreng dan telur ceplok sampai wajah mirip teflon anti lengket, kami terima saja. Pakai masker double medis dan KN95 yang super engap padahal harus ngengkol mesin di pabrik yang panas pool juga dijalani oleh suami saya yang tidak bisa wfh saat pandemi, demi mengusahakan tidak bawa virus covid untuk calon anak kami. 

Yah begitulah, kehamilan anak kedua, dan kehidupan anak pertama yang utama. Sisanya bisa lah diatur nanti.

Nilai terhadap sesuatu, seringkali diturunkan oleh orang tua. Saya terngiang-ngiang oleh kata-kata Ibu saya yang selalu pamer, saya dilahirkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak terbaik di Semarang, meskipun kala itu gaji bapak dan ibu pas-pasan. 

Belum selesai cerita ibu asisten saya. Anak keduanya sudah menikah dan punya 1 anak. Berkebutuhan khusus, tidak bisa mendengar. Selang beberapa bulan bekerja, beliau menemui saya sambil menahan tangis. Menceritakan bahwa anak keduanya hamil lagi. Saya bingung harus bereaksi apa, bukannya kehamilan harusnya disambut dengan bahagia?

"Hamil lagi bu. Saya sudah nggak ngerti lagi mau gimana. Kebobolan. Wong yang pertama saja sudah pontang panting biayanya bu". Ternyata, cucu pertama dari anak kedua ini butuh terapi, bukan hanya untuk bantuan pendengaran dan berbicara, tetapi juga terapi berjalan karena ada kekurangan di bagian fisik lainnya, kaki dan syarafnya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa selain menenangkan, tentunya dengan kata-kata anak datang dengan rejeki masing-masing.

Di bulan ke 9 kehamilan, ayah calon bayi menerima THR dari tempatnya bekerja, dan mereka memutuskan untuk membeli motor baru. DP terbayar, dan tinggal memulai cicilannya. Sempat terbesit rasa heran. Tapi mencoba memahami, bahwa tidak semua orang mempersiapkan lahiran perlu sengoyo saya. Mungkin yang ini sudah hitung biaya lahiran, dan uangnya masih kelebihan jadi bisa beli motor.

Tibalah waktu melahirkan. Sang Ibu yang selama hamil hanya bisa makan cuangki, dan bolak balik demam, mengalami komplikasi. Harus dirawat intensif di rumah sakit karena tidak sadar setelah melahirkan. Bayinya, dipulangkan dengan kondisi ibu masih di rumah sakit. Bapak dan kakeknya pontang panting mengurus anak pertama dan bayi baru lahir ini, dengan neneknya menunggui ibunya di rumah sakit. Bukan hanya lelah fisik, tapi tentu saja diikuti dengan tagihan rumah sakit yang membludak. Dan sayangnya, ayah sang anak tidak punya sepeser pun uang untuk bayar rumah sakit.

Cerita ini berlanjut dengan bayi yang bolak balik demam, tapi seluruh keluarga merasa baik dan sehat-sehat saja. Sedih sekali rasanya ketika mendengar bayi ini hanya berumur 6 bulan saja.

Membandingkan Makna Menikah
Sah!
Sumber foto: siakapkeli.my

Menikah untuk saya adalah perkara besar. Ibu asisten yang saya cuplik ceritanya pada paragraf-paragraf di atas menegaskan pendidikan kepada anak-anaknya. Semua harus lulus tingkat SMK. Setelah lulus mau apa, silahkan ditentukan sendiri. Dari 6 anak, baru 2 orang anak yang menikah. Padahal ada 4 yang sudah usia dewasa. 

Agak berbeda, asisten saya yang lain lebih memandang pernikahan bagaikan solusi jitu untuk segala macam masalah kehidupan.

5 hari lagi libur lebaran usai. Sebuah pesan pendek muncul di handphone saya. "Bu, saya harus mundur pulangnya ke rumah Ibu. Anak saya mau nikah minggu depan". Kok tiba-tiba nikah? Tanya saya heran. 

Heran sekali, karena saya sendiri berpikir untuk menikah sekitar H-1 tahun sebelum pernikahan itu terjadi. Bahkan malam akad nikah, saya memeluk erat Ibu saya, menangis, masih berfikir apa kita batalkan saja pernikahan ini, saking takutnya.

Ya, takut menghadapi apa yang akan terjadi. Takut menerima tanggung jawab, takut tidak bisa lagi bergantung kepada orang tua untuk semua masalah hidup, takut ini dan takut itu. Takut sekali.

"Memang kenapa bu kok tiba-tiba nikah?"

"Iya, waktu saya pulang, anak yang kecil cerita sering ada teman laki-laki kakaknya main ke rumah. Saya takut bu. Yasudah langsung saja saya panggil anak laki-laki itu, terus saya suruh nikah sekalian. Sepakat nikahnya minggu depan, bu"

Untung Ibu saya dulu punya pandangan yang berbeda. Kalau sama, bisa-bisa saya nikah di usia SMP. Wong teman laki-laki bolak balik datang ke rumah. Bukannya dinikahkan, tapi malah didukung. Orang tua lebih tenang, anaknya ngobrol di teras rumah. Meskipun air es dan sirup di kulkas jadi lebih cepat habis, paling tidak mereka bisa intip-intip anaknya sedang apa dengan teman laki-lakinya.

Yang mendadak dinikahkan tadi adalah anak kedua dari empat bersaudara. Adiknya, perempuan juga, baru kelas 1 SMA, mogok sekolah. Ingin menikah saja, begitu katanya. Yang bontot masih SMP, sebisa mungkin saya bantu biar tidak putus sekolah. Syaratnya satu, sekolah yang betul, jangan kebelet nikah dulu. Selepas menikah, anak kedua yang langsung hamil. Sang Ibu berhenti bekerja membantu mengurus cucu pertamanya.

Ketika akan kembali bekerja, saya tanya untuk meminimalkan drama, "ada rencana mau nikahkan anak dalam waktu dekat nggak? Jangan mendadak lagi ya"

"Nggak ada bu, paling tahun depan, nikahkan yang kedua, baru lamaran bulan lalu"

Persis seminggu kemudian.

"Bu, haduh saya minta ijin bu, mau ke bogor. Anak saya yang pertama, yang laki-laki, mau nikah besok."

Sekian menit saya bengong. Nikah? Kapan nikahnya? Hah gimana tadi? Besok? Siapa yang nikah? Kucing?? Kucing saja mau kawin ngeong-ngeong persiapannya seminggu. Ini bicara nikah hari sabtu, untuk acara nikah minggu pagi. Kepala saya, sama sekali tidak bisa memproses informasi yang baru saya dengar. 

Hari minggu tiba, ibu asisten ijin pergi dan kembali dengan wajah datar biasa saja.

"Ternyata sudah isi duluan bu. Sudah 7 bulan. Duh, saya merasa masih bersyukur. Ternyata saya susah, masih ada lagi yang lebih susah. Anak saya 27 tahun. Cewenya ini masih 19 tahun. Tinggal dengan orang tuanya yang serumah dengan kakek neneknya. Enam bersaudara, paling kecil masih 6 bulan. Rumah saya jelek, tapi yang tadi lebih prihatin bu."

Sama sekali seperti tidak ada apa-apa yang tidak seharusnya.

"Saya udah pesenin nanti harus ngontrak sendiri jangan ikut rumah orang tua. Kepenuhan. 2 bulan lagi melahirkan bu," ibu asisten saya berkata ringan, bisa dikatakan riang, menyambut calon cucu kedua yang sebentar lagi lahir.
                                                        

Dan saya pun bingung harus berkomentar apa.



Penutup

Lagi-lagi, semua perbandingan selalu tergantung sudut pandang. Cerita disini hanya potret dari secuil halaman yang saya lihat. Tentunya bisa saja jadi tidak benar kalau melihat keseluruhan album fotonya. Tapi ya beginilah manusia, ada-ada saja pikirannya, ada yang lucu, banyak yang bikin melongo.























5 komentar:

a l f i mengatakan...

Wah, seru2 banget ceritanya! Seru dalam artian lucu, geli, gemas, dan juga miris. Salfok di "Wong teman laki-laki bolak balik datang ke rumah". Uhuy 🤭

Tapi aku sepakat "anak adalah subyek dan bukan obyek". Bismillah 😇

Uril mengatakan...

Wkwkwk wajah mirip teflon anti lengket tuh kayak gimana bentukannya, Mamah Ririiin?

Prihatin dengan kondisi Ibu ART Ririn. Mau heran tapi memang masih ada yang sepemikiran dengan Ibu tersebut. Anaknya banyak tapi gak terawat. Kasihan sekali lho ini. :(
Ada yang memang gak mau KB, ada yang memang ga paham sistem kalender, ada yang keberatan mengeluarkan uang untuk beli kondom sedangkan mereka juga gak kuat untuk spend buat kebutuhan tersier (hiburan, leisure) akhirnya ujung2nya hiburannya ya 'itu'. Yang bisa berakibat hamil lagi.

Risna mengatakan...

aku ga tau mau komen apa, tapi aku harus komen karena teh Ririn masih sabar mendengar cerita yang buat kita merasa sepertinya ada yang salah, tapi ya ga salah juga itu kan pilihan dia.

Btw semoga teh Ririn proses hamil anak ke-2 nya bisa sehat sampai hari H nya ya teh.

Anonim mengatakan...

Kocak teh... tp bikin ketawa miris. Coba ini gimana kualitas generasi muda kalau begini ya. Pendidikan adalah kunci ya, dan pemegang kuncinya itu ibu

Shanty Dewi Arifin mengatakan...

Rasanya hanya bisa ngelus dada melihat pemikiran orang-orang ini. Bagaimana bisa keluar dari lingkaran itu kalau pemikirannya seperti itu ya. Hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mereka.