9/25/2014

Indonesia Negara Maritim

Dampak dari Indonesia sebagai negara maritim yang dapat dirasakan oleh masyarakat banyak, antara lain sebagai berikut.

6/9/2014 (day 1)
-Setelah sekitar 1 jam-an whatsappan tanpa ada pending, di daratan-

Dekil 1   : "Eh, gue boarding nih. Dadah!"
Dekil 2   : "Okeee.dadah!"

-dekil 1 diterbangkan ke suatu titik di dekat laut cina selatan. Dekil 2 yang sepertinya terlalu berat untuk diterbangkan, diam menggunduk di kamar-

-2 jam kemudian-
09:00 #Dekil 2   menerima sms dari dekil 1# : “Oi, udah sampe nih gue di pulaunya,lagi nunggu helikopter”

Ohyeah, di lautpun masih ada GPRS. Dengan penuh kebanggaan akan Indonesia sebagai negara maritim, dekil 2 senyum-senyum

09:02#Dekil 2 langsung mengirim balasan ke Dekil 1#: “Waah. Yaudah lah tenang. Paling ga masih ada sinyal yaaa”

-Setengah jam kemudian-
Dekil 1: "Woi, ini lo balesnya lama apa pending sih?"

-Setengah jam berikutnya-
Dekil 2: "Sms lo baru masuuuuk

-2 jam kemudian-
Dekil 1:”Eh balesan lo baru masuk nih. Udah mau naik helikopter gue. Siap-siap nggak ada sinyal yak"

-Setengah jam setelah 2 jam yang tadi-
Dekil 2  :”ah masa ga ada sinyal amat sih?”

......... ______________ dan dekil 1 pun hilang

7/9 (day 2)
#Di dalam otak Dekil 2# : ”Ah, paling juga si buduk nyampe-nyampe langsung kerja jadi ga sempat pegang HP ”
8/9 (day 3)
#Dekil 2, di dalam hati# : ”Yah dulu di darat juga 3 hari kerja bisa ga pegang HP, biasa lah ya”

9/9 (day 4)
#Dekil 2 ceklak ceklek remote tv sama buka-buka detik dot com#: “Ini berita kenapa-kenapa di laut  ga ada kan ya?”

10/9 (day 5)
#Dekil 2 yang mulai keluar kesinetronannya kirim email ke dekil 1 lantas ngontak mbak-mbak penguasa laut cina selatan#  :”Eh,mbak,mbak, laut apa kabar nih? ga ada yang aneh kan ya?”

Mbak-mbak penguasa laut cina selatan :”Aman kok, aman”

Dekil 2  :”okeeee,” #lantas ketiduran : )))#

11/9 (day 6)
21:00 #Dekil 2 yang harus cepat lulus mencoba mengerjakan PR dengan rajin. Alih-alih membuka buku PR, dekil 2 membuka laptop# : “Ih, email kenapa ga dibales-bales dah” *nyungut-nyungut*

12/9 (day 7)
18:00 #Dekil 2 yang sudah sangat bosan mengerjakan PR –padahal mulai aja belum:p- ngubek laptop, buka-buka foto#

20:00 #Dekil 2 yang ga mulai-mulai ngerjain PR pergi ke loteng jemuran, liat bulan#

21:00 #Dekil 2 menerima telepon yang entah dari siapa. Suara mas-mas, halo-halo ga jelas, dan ohyeah, mungkin emang bulan beneran bisa kirim sinyal jaman sekarang, itu si dekil 1 nelpon#

21:00:01 Dekil 2 #Sambil loncat-loncat# :"Eh lo telpon pake apa??"
21:00:02 Dekil 1 :"Ga tau nih sambungan apa"
21:00:03 Dekil 2 :"Ha? Halo halo.lo ngomong apa sih?"
21:00:06 Dekil 1: "Iya, halo halo. Kedengeran ga?"
21:00:08 Dekil 2: "Iya halo.kedengeran kok"
21:00:09 Dekil 2: "Haloh! Haloh!"
21:00:10 Dekil 1: "Eh udah ya.ga bisa lama-lama nih"

Klek. Tut tut tut

21:00:10:05 #Dekil 2 yang melongo hanya bisa berharap Pak Jokowi nyuruh telk***** bangun tower terapung deket laut cina selatan


Indonesia negara maritim oh,oh. Luas lautnya, susah nelponnya -_-

7/10/2014

Masohi, bukan morowali atau manokwari

Well, susah sekali mewujudkan resolusi tahun 2014 untuk posting sebulan sekali. yah yasudah lah. yang penting tetap lanjut posting di tahun ini *melemah.hahaha

Awal bulan Juni kemarin saya mengiyakan tawaran survey dari Pak Bos. Ke Masohi katanya. Butuh waktu 2 minggu untuk bisa ingat saya mau dikirim kemana, atau lebih tepatnya saya baru ingat nama daerahnya setelah saya sampai disana. Itupun karena ada tulisan MASOHI diukir besar-besar di atas gunung, macem tulisan Hollywood yang sering nongol di seleksi American Idol. Sebelum lihat tulisan itu, saya hampir kena amuk partner survey saya yang pusing dengar saya bilang: Kak, kita ke manokwari pesawat jam berapa? atau kak, kita udah pesen penginapan belum di morowali? *dasar si pikun:)))

Yup, Masohi, sebuah kota pelabuhan di Pulau Seram bagian selatan, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan kapal cepat dari Ambon. Dari Jakarta, tentu saja pesawat ke Ambon. Jangan khawatir, pesawat ke Ambon sudah cukup banyak. Yang perlu diwaspadai hanya kapal untuk menyebrang ke Pulau Seramnya, adanya hanya pagi atau sore. Sekali ketinggalan yasudah. bersabarlah untuk bermalam di pelabuhan :p


Kota ini sebetulnya sudah sering masuk internet karena masuk jalur transportasi ke Ora Beach, kata orang ini maldives-nya Indonesia. Sayang saya tidak bisa kesana karena waktunya mepet dan ternyata masih perlu 4 jam perjalanan dari Masohi *padahal udah pamer-pamer mau kesana sebelum survey,doh memang manusia nggak boleh sombong.
***
Skala nilai tempat wisata untuk Masohi menurut saya 7 dari 10. Pantainya (sejauh yang saya datangi ya) masih kalah dibanding Halmahera Utara dan Ambon. Ikan tidak terlalu segar karena katanya didatangkan dari Pulau Seram bagian Utara.


Makanan khas dari daerah ini adalah suami, terbuat dari singkong, kenyal, untuk makanan pokok pengganti nasi, namun bisa juga dijumpai di Ambon. Fasilitas Kota cukup lengkap dan nyaman untuk wisatawan. Selain itu yang plus adalah tata kotanya baguuus. Dilihat dari atas gunung kesannya rapi dan menurut saya berseni. Ada kapel, ada masjid, ada rumah, ada lapangan, dan ada taman -sayang saya nggak dapat foto landscape kotanya,duh.




Kata Bapak Pemda yang menemani tim saya kesana kemari, penduduk disana malas-malas. Dulu, ada kebun jambu mete yang luas sekali. Lalu ada kebun coklat dan cengkeh. Tetapi karena penduduknya kurang ulet, habis lah sudah. Ah sayang sekali.

Oh ya, boleh dibilang malas, tapi penduduk Masohi juara untuk masalah nonton bola. World Cup memberi dampak yang cukup besar bagi daerah ini. Setiap malam ada pawai motor dan setiap selesai pertandingan selalu ada arak-arakan keliling kota, sesuai kesebelasan yang menjadi pemenang. Saya sempat kewalahan terjebak pawai supporter Belanda waktu mau pergi ke Pelabuhan. Entah karena saking lamanya dijajah Belanda atau apa, supporter Belanda disini banyaaaak. Dan pawainya, alamak. Dari ujung kota ke ujun lain, macet total.

Lepas dari world cup, ada satu cerita menarik yang membuat saya terkagum-kagum sambil mikir gimana bisa gitu. 

Masohi, adalah salah satu daerah yang ikut rusuh waktu ada kerusuhan Ambon dulu. Kerusuhannya bagaimana bukan tugas saya untuk menceritakan ya,hehe. Yang saya mau ceritakan disini adalah bagaimana mereka mendapat senjata.

Yah, karena terbatasnya logistik, para pemuda di Masohi menyelam laut dalam untuk mengambil sisa-sisa perang jaman Belanda. Jangan tanya saya bagaimana detailnya apalagi tanya mereka menyelam di sebelah mana. Menurut Bapak yang menceritakan, ada orang-orang tua yang masih hidup dan dulu ikut perang jaman Belanda. Selain melihat sendiri perang ada di laut mana, beliau-beliau ini punya semacam kekuatan magis yang bisa membimbing mas-mas yang mau menyelam ambil bom.

Yang jelas, mereka berhasil mengambil bom-bom sisa-sisa perang Belanda dan mengambil bubuk mesiu-nya untuk dirakit jadi bom baru. Dan Bumm. Sepertinya  keren sekali perang lokal bukan lagi dengan bambu runcing tapi dengan bom. Semacam ada tentara-tentara jepang ikut perang -_-'

Well, percaya atau tidak, memang begitu faktanya. Mungkin kalau penduduk Masohi mau lebih rajin lagi kita bisa buka wisata perang bawah laut. Sepertinya seru ;)