Tampilkan postingan dengan label Lihat-lihat sekitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lihat-lihat sekitar. Tampilkan semua postingan

4/08/2015

Indonesia Lawak

Posting ini dibuat ditengah kondisi mumet, menyadari angan-angan untuk membuat thesis dan lulus S2 hanya dalam sehari semalam begadang pupus sudah :))))

Sekitar 2 hari yang lalu, saya menghabiskan makan siang di depan TV ruang keluarga rumah bude saya sambil membuka-buka koran. Suatu kegiatan yang jarang saya lakukan mengingat biasanya saya menghabiskan makan -pagi-siang-malam- hanya dalam beberapa detik, bahkan sebelum sempat mengambil korannya saja makanan di piring saya sudah ludes,heheh.

Artikel yang saya baca siang itu menceritakan seorang bapak pejabat staf kepresidenan yang datang ke Istana Negara untuk memperkenalkan tim yang baru saja dibentuk. Tim ini, nantinya tentu saja akan membantu bapak itu bekerja sebagai staf presiden. Dalam pertemuan itu, hadir pula seorang bapak anggota DPR.

Sampai 1 paragraf terakhir, saya cukup senang melihat perkembangan Indonesia. Bapak staf kepresidenan itu bercerita bahwa timnya akan diperkuat mahasiswa-mahasiswa Indonesia lulusan Harvard yang lulus seleksi kepegawaian. Tetapi belum genap saya bilang "Indonesia Heeeebaaa...", mata saya menyorot baris-baris kalimat yang isinya kira-kira seperti ini.

" Xx, seorang anggota DPR yang ikut dalam pertemuan itu menegur Zz sebagai kepala staf kepresidenan yang melecehkan lulusan dalam negeri. Terlalu membangga-banggakan lulusan Harvard."

hehhh??
Mungkin saya termasuk orang awam yang tersetir oleh media, tetapi melihat history beberapa kejadian belakangan ini entah mengapa saya punya mindset: benar-benar absurd orang-orang DPR ini.

Mendengar komentar bapak DPR yang sangat "heh" itu, kepala staf kepresidenan tentu saja tidak ambil pusing. Wong lulusan Harvard yang dimaksud itu adalah mahasiswa Indonesia yang hampir lulus dan mau kembali ke Indonesia untuk bekerja di dalam negeri.  Hampir lulus, belum lulus, dan tetap akan ikut seleksi. Ada 6 orang yang sudah menyatakan berminat ikut seleksi staf kepresidenan. Kalau ada mahasiswa perguruan dalam negeri yang ingin ikut seleksi ya silahkan. Lagipula beberapa lulusan Harvard itu lulusan ITB juga.

DPR ini lawak nggak sih,duh. 






3/05/2015

Menghindari Ghibah

Seorang teman saya mem-posting sebuah foto di grup angkatan kuliah saya.


Menyadari jumlah pahala yang tanpa dibagi-bagi pun entah cukup atau tidak untuk mengantar saya masuk surga, marilah menghindari ghibah, paling tidak untuk malam ini. Posting ini dibuat untuk mengalihkan pikiran saya dari kegiatan ghibah akibat es kelapa -nggak- muda plus jeruk yang entahlah ini bagaimana cara minumnya *keluar tetesan air di jidat.

Akhir-akhir ini media sering memberitakan mengenai eksekusi mati terpidana narkoba. Mereka berasal dari berbagai negara, tetapi yang paling beken adalah 2 orang yang berasal Australia.

Sementara ini saya cukup kagum melihat Pemerintah Indonesia yang masih bersikap menolak pembatalan eksekusi mati terpidana narkoba. Iya, sementara, karena eksekusi mati belum benar-benar terlaksana. Masih ada kemungkinan eksekusi dibatalkan, dan bila itu tejadi, hilanglah sudah kekaguman yang sementara tadi. 

Australia dengan berbagai cara melindungi warga negaranya yang akan dieksekusi mati. Tindakan ini merupakan suatu kewajaran bagi negara yang peduli terhadap warga negaranya dan merasa cukup berkuasa. Di satu  sisi saya melihat sisi positif dari usaha Australia, yang terlihat sekali mengupayakan kedua warga negaranya bebas dari hukuman mati-Indonesia harusnya bisa mencontoh ini. Tapi di sisi lain, beberapa langkah yang ditempuh Australia membuat saya harus bilang "heh??"

Beberapa konferensi pers yang muncul di tv menayangkan cuplikan pidato PM Australia dan seorang lagi -maaf saya tidak tahu itu siapa- yang beberapa kali menyatakan, Indonesia harus melepaskan kedua terpidana mati karena bila eksekusi tetap dilaksanakan, Indonesia lah yang akan menanggung kerugian paling besar.

Sebetulnya dalam hati saya bertanya, sebesar apa kerugiannya. Dari kabar-kabar yang beredar, wilayah Indonesia sudah dikepung oleh kapal-kapal Amerika dan Australia yang siap memborbardir kapan saja diperlukan. Apakah iya, yang dimaksud kerugian adalah ini? Kalau memang iya, apakah bisa jaman sekarang tiba-tiba perang dengan alasan yang aneh ini. Apakah iya, Australia bisa asal serang Indonesia, yang mana Indonesia sekarang punya posisi strategis untuk bisnis dan dilirik banyak negara maju?

Menanggapi lobi yang belum berhasil, Australia mengeluarkan langkah-langkah lain. Salah satu contohnya adalah pelarangan warga Australia untuk berkunjung ke Indonesia, yang mana warga Australianya pun protes mengapa dilarang pergi ke Indonesia. -Yaudah sih, nggak masalah. Wong mereka pergi ke bali dan lombok kok, bukan ke Indonesia :)))). 

Soal PM Australia yang mengungkit-ungkit bantuan Aceh sih semua sudah deal kalau itu aneh ya, sekarang mari lanjut ke keanehan selanjutnya. 

Sebetulnya saya kurang paham, apa saja yang bisa meringankan dakwaan. Pemerintah Australia, akhir-akhir ini sibuk mengungkit ketidak adilan yang diperoleh 2 warna negaranya, dibandingkan dengan warga negara Indonesia yang menyelundupkan narkoba ke Australia.

Dari berita yang beredar, ternyata ada 3 orang warga negara Indonesia yang sekarang sedang ditahan di Australia akibat menyelundupkan narkoba, dengan jumlah 10 kali lipat dari narkoba yang diselundupkan 2 terpidana mati di Indonesia. 

Tiga orang Indonesia yang menyelundupkan narkoba ke Australia hanya dihukum 25 tahun penjara dan diperbolehkan mengajukan keringanan setelah sekian tahun di penjara. Selain itu, warga negara Indonesia menyelundupkan Narkoba ke Australia menggunakan kapal canggih yang dimodifikasi. Sedangkan 2 orang Australia yang akan dieksekusi hanya menggunakan plastik dan selotip. 

Tidak berhenti mengecam, Australia mempermasalahkan fasilitas penjara di Indonesia yang tidak sebaik di Australia. Akhirnya, karena putus asa mengancam, Pemerintah Australia menawarkan barter tawanan *nahan ketawa.

Saya nggak habis pikir, mengapa Australia bisa mengeluarkan opsi itu. Bagi saya, kalau hukum Australia tidak seberat hukum Indonesia, ya selundupkanlah narkoba ke Australia saja, jangan ke Indonesia. Kalau berbicara mengenai fasilitas, saya ingin membandingkan dengan fasilitas yang diterima Kedubes Australia ketika musim bom di Indonesia. Saat ini, KJRI Indonesia di Sidney menerima beberapa teror. Tiba-tiba muncul bercak cat berwarna merah darah dan balon-balon berisi cat di dekat pintu masuk kantor KJRI. Penjagaan diperketat dengan menambah personil polisi menjadi 4 orang.

Apakah ada yang ingat bagaimana penjagaan Kedutaan Australia di Jakarta jaman-jaman ada serangan bom di Indonesia? *dadah dadah.

Nyah, saya nahan ketawa sekaligus agak bangga sih. Manusia Indonesia akhirnya dibilang lebih canggih, bisa merakit kapal modifikasi, dibandingkan orang Australia *ya meskipun canggih untuk sesuatu yang salah sih.hahaha. 

Dan akhirnya saya merasa ada poin plus dari ketidak pedulian Pemerintah Indonesia akan warganya-muahahaha. Sekarang kita di posisi aman menang, istilahnya kalau mau barter, disini ditembak dan disana juga akan ditembak, yah yasudah. Toh nggak ada yang sadar juga kalau ada warga negara kita yang sedang dipenjara di Australia. Pemerintah Indonesia saja sepertinya nggak ngeh, kalau Pemerintah Australia nggak menyebut-nyebut itu :))))
 




2/23/2015

Tukang Translet Jepang

Halo!
Siang ini saya sedang terjebak di depan laptop, mencoba berkutat mengerjakan amanah negara yang diberikan kepada saya : mengusahakan lulus s2 sebelum beasiswa mandek.

Alih-alih berhasil mengurangi blank space dalam lembar-lembar draft th*sis, saya malah berkutat dengan huruf-huruf jepang yang mbuh iki opo. 

Alkisah, usulan tema th*sis yang saya ajukan disetujui oleh dosen saya. Isinya membahas isu global yang katanya sedang hot. Sebetulnya yang dibahas disini masalah klasik: negara maju punya banyak uang dan ingin semakin punya banyak uang, sedangkan negara berkembang kekurangan uang dan entah kenapa semakin nggak punya uang saja :P

Seperti yang kita ketahui, Indonesia kekurangan listrik. Salah satu masalah adalah mampetnya modal untuk investasi pembangkit listrik yang nilainya waw itu. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara yang -masih- minim industri punya potensi penurunan emisi gas rumah kaca, dimana kreditnya bisa dijual ke negara-negara maju yang kelebihan polusi udara.

Jepang, adalah salah satu negara yang mencari-cari kredit karbon. Maka datanglah Jepang ke Indonesia, dengan membawa suatu mekanisme kerja sama, dimana Jepang akan membiayai pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan di Indonesia. Simbiosisnya? Indonesia akan punya pembangkit listrik cuma-cuma, dan Jepang akan mendapat kredit karbon dari hasil "beramalnya".

Sekilas sungguh menyenangkan mekanisme yang diterapkan, sekedar mengajukan project design berisi bentuk kegiatan, rencana pengukuran emisi dan pelaporan, lalu taraaa! lembar-lembar Yen akan mengalir ke indonesia. 

Saya pun, di awal termasuk orang-orang yang senang dengan mekanisme ini. Selain mendapat topik th*sis,hehe, saya pikir ini salah satu cara agar Indonesia tidak jalan di tempat. Entah ditipu entah tidak, Indonesia nanti akan punya pembangkit listrik yang wow.

Tapi, makin saya mempelajari mekanismenya, makin mengumpat-umpatlah saya dalam hati. Apalagi menyadari bahwa penelitian saya nantinya akan menunjang tumbuh kembang penipuan bagi Indonesia :)))). Suudzon versi simpel dari hasil saya mencari tahu adalah: sebetulnya mereka jualan, bukan beramal. Sudah jualan, dapat kredit karbon pula. Alamak pintarnya!

Jadi, dana yang digunakan dalam kerja sama ini berasal dari industri-industri Jepang. Misal project tentang solar energy, yang mendanai adalah Sony Energy Device Corporation. Sebetulnya saya tidak tahu pasti ini perusahaan apa. Tapi dari namanya, sepertinya perusahaan ini memproduksi sesuatu komponen solar cell. ini adalah suudzon hasil kejadian yang sudah-sudah, dimana Indonesia menerima kredit pembangunan pembangkit listrik dari Tiongkok, yang mana ternyata unitnya adalah barang Tiongkok *yaiylah*, spare partnya dari Tiongkok dan yang parah adalah engineer plus operator-operatornya pun harus pakai yang dari Tiongkok:))))

Nah kembali ke masalah Indonesia dan Jepang yang jual beli karbon tadi. Dalam hati sebenarnya saya merasa pilu karena Indonesia lagi-lagi akan ditipu. Namun, kepiluan hati yang lebih mendalam saya rasakan ketika menyadari fakta bahwa saya harus membaca semua dokumen kerjasamanya, dan:

ITU SEMUA DOKUMEN DITULIS BAHASA JEPAAAAAAAANG 
'*#!**!$!$?!#?!%!$!!?****?!$$!

Doh, Indonesia cepat-cepatlah lepas dari penjajahan, agar mahasiswa-mahasiswa lelet nan kepepet macem saya ini tak perlu bolak balik klak klik klak klik google translete -__-
 

1/30/2015

Budaya versus ritual

-Nguri uri kabudayan-

Entah kenapa tiba-tiba kalimat ini muncul di otak saya.hahahahaha.kalau tidak salah itu slogan di papan iklan bergambar gubernur Jawa Tengah, atau bunyi teks yang dibawakan penyiar sesuatu televisi Jawa Tengah,tentu saja dengan logat jawa yang khas itu.

Saya adalah seorang suku jawa. Tinggal di Jawa Tengah dengan orang tua berdarah Jawa. Saya bisa berbahasa jawa tetapi sebatas bahasa pergaulan ngoko -kasar.

**definisi bahasa ngoko adalah suatu bahasa yang bila digunakan untuk mengobrol dengan nenek calon suami yang orang jawa tulen,kira-kira endingnya seperti ini: sudah,jangan menikah sama yang itu.ndak tahu sopan santun :))))

Selanjutnya, saya juga seorang muslim. Tinggal di dekat masjid membuat saya selalu menjadi juara pesantren kilat *apa coba.hahaha. Saya berasal dari keluarga yang taat beribadah. Ibu saya mengomel dasyat bila saya kesiangan solat subuh dan sangat marah ketika tahu ada seseorang yang minta pertolongan ke dukun ketika sakit. Tetapi kami bukan tipe-tipe keluarga berjenggot panjang.hehe.

Orang tua saya, sejauh yang saya lihat adalah tipe pembelajar. Berangkat dari keluarga yang minim pengetahuan akan Islam, sedikit demi sedikit belajar berpegang teguh pada apa yang disyariatkan oleh Islam.

Di sisi lain, memiliki keluarga besar suku jawa membuat keluarga saya masih memiliki respek pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh budaya Jawa. Bukan dijadikan ritual,tetapi untuk adat budaya.

Inilah yang membuat saya pusing akhir-akhir ini. Menjelaskan pengertian budaya yang tidak disalah artikan menjadi ritual. Saya pribadi-dan juga orang tua saya- menolak keras unsur-unsur ritual kejawen atau ritual apapun yang membuat tuhan seolah jadi ada lebih dari 1. Tetapi falsafah seperti hormat kepada orang tua, rajin bekerja, tidak mudah menyerah menghadapi persoalan hidup, tentu saja tidak masalah bila dipegang erat-erat.

Saya pribadi,sebagai orang jawa,senang untuk menjadi bagian dari budaya.

Saya sangat tidak suka menggunakan make up tebal dan berbagai jepit peniti ribet. Apalagi saya harus terjebak dengan semua itu dalam waktu lama.

Tetapi, saya punya mimpi. Nanti saat menikah saya ingin menggunakan kebaya, bukan gaun-gaun modifikasi atau gamis-gamis khas arab. Meskipun pilihan gaun- gamis sekarang sangat luas dan penjahit kebaya semakin langka, saya merasa menggunakan kebaya adalah suatu kebanggaan. Kebaya membuat seorang wanita jawa menjadi lebih anggun -ok,mari sejenak lupakan masalah over weight saya-_-

Begitu juga dengan beberapa adat lain semacam siraman dalam rentetan acara pernikahan, dimana sang anak perempuan seolah-olah digendong oleh ayahnya masuk ke rumah. Melambangkan saat terakhir kalinya anak perempuan itu menjadi tanggung jawab ayahnya karena esok hari, setelah akad nikah, tanggung jawab itu akan beralih kepada suaminya #dan saya pun mewek menulis posting ini -_-'

Bukan percaya kalau tidak digendong akan sial atau apa.Hanya simbolisasi saja. Mengingatkan kembali mengenai peralihan tanggung jawab yang mana sumbernya juga sebetulnya dari aturan Islam.

Saya ada di posisi yang netral.Bila tidak memberatkan dari sisi finansial dan tidak bertentangan dengan agama, saya cenderung memilih untuk ikut serta dalam rangkaian budaya. Toh kita juga sering datang jauh-jauh keluar negeri hanya untuk melihat budaya orang lain. Toh mayoritas masyarakat Indonesia juga ngamuk saat reog diaku budaya malaysia.

Hanya saja, saya perlu suatu cara untuk membatasi antara ritual dan budaya. Agar semua itu tidak salah kaprah.

1/21/2015

Listrik Batang dan Gemas

Alih-alih memulai tesis yang tak kunjung dimulai (hahaha), browsing internet tentang artikel pembangkit listrik Indonesia kembali membuat saya gemas.

Indonesia, seperti yang sudah banyak disinggung adalah negara yang kurang ini kurang itu di bagian yang bagus-bagus dan kelebihan ini kelebihan itu di bagian yang susah-susah :p. Salah satu kelebihan Indonesia adalah kelebihan kebutuhan listrik.

Pemerintah Indonesia sekarang gencar mencari sumber energi listrik, mulai dari energi yang terbarukan bebas polusi sampai energi konvensional yang isinya polusi tok. 

Pilihannya jatuh pada pembangkit listrik batubara. Pro dan kontra mengenai ini tentu biasa, tetapi saya agak gemas membaca sebuah artikel tentang suatu organisasi penyelamat lingkungan yang mengomentari tentang pembangunan pembangkit listrik di Batang.

PLTU di Batang yang katanya akan berkapasitas 2x1.000 MW Ini memang proyek raksasa, direncanakan dibangun dengan teknologi yang katanya ramah lingkungan, dimana saya yakin tidak akan ada -termasuk saya- yang percaya PLTU batubara bisa ramah lingkungan, dibangunnya di Indonesia pula :P.

Dalam artikel tadi ditulis semua dampak lingkungan yang akan ditimbulkan oleh pembangunan PLTU batubara, mulai dari desa-desa yang akan tergusur, pencemarannya, hingga ke masalah politik. Di artikel itu ditulis pemerintahan sekarang bertolak belakang dengan pemerintah dahulu yang berkomitmen menurunkan emisi karbon.

Selesai membaca rasanya saya panas, ingin langsung pergi ke batang, lalu dengan anarki memanjat dan gandul-gandul di papan proyek PLTU Batang -Setelah itu mbuh mau apa :)).

Memang betul, PLTU batubara adalah pembangkit listrik dengan polusi terbesar. Saya sendiri bukan golongan pembela pemerintah dan termasuk yang gemas pembangkit listrik energi terbarukan semacam air sampai sekarang masih mandek. Tetapi, akhir-akhir ini saya mendapat sudut pandang baru (teracuni akibat sekolah lagi,hahaha).

Pertama, program PLTU heboh ini dimulai oleh SBY, jadi kalau pun ada tolak belakang, terjadinya antar kebijakan pemerintah terdahulu dengan kebijakan pemerintah terdahulu, bukan kebijakan pemerintah sekarang dengan terdahulu :p

Kedua, batubara termasuk energi yang tidak terbarukan, itu betul. Tetapi setelah minyak yang 5 tahun lagi akan habis, batubara adalah salah satu energi yang bisa diandalkan. Bukan karena batubara Indonesia melimpah, tapi lebih karena teknologi yang ada di Indonesia sudah siap untuk batubara. Karena teknologinya  sudah siap, harganya menjadi ekonomis.

Saya setuju, Indonesia harus beralih ke energi terbarukan bebas polusi. Tapi sambil menunggu peralihan itu lho, kita mau pakai apa. Saya sih termasuk yang tidak bisa hidup tanpa listrik. Jangankan beberapa tahun. Menunggu listrik menyala jam 6 sore ketika survey di maluku saja saya mau pingsan.

Wahai sodara-sodara yang menulis artikel itu,hahaha. Mengadakan listrik untuk Indonesia bukan perkara mudah. Lahannya, teknologinya, investasinya, belum lagi kalau ditolak warga. Saya yakin tanpa terpengaruh artikel seperti itu pun masyarakat Indonesia sudah menolak dulu tanpa tahu sebetulnya apa yang ditolak :P.

Jadi ayolah daripada membuat warga semakin menolak lebih baik kita membuat tesis saya saja(loh)









  

12/28/2014

Bus malam dan mas tuas pengungkit

Halo. Ini jam 2 malam, saya di bus malam jalan dari bandung ke semarang dengan mas-mas aneh yang duduk di sebelah saya dengan posisi badan bagai tuas pengungkit.

Badan mungil memang bukan jaminan kita tidak akan memakan tempat orang lain di dalam bus malam. Mas di sebelah saya ini cukup mungil. Badannya 1/3 badan saya. Masnya yang mungil atau saya yang kegedean,embuh. Meskipun mini, mas-mas ini tidur sepanjang jalan dan berpose melintang, menjulur nyebrang dari kursinya ke kursi saya.

Intinya, SELALU ada bagian tubuh dari mas itu yang sampai ke area kursi saya.

Bagian yang saya tulis pakai huruf kapital kira-kira deskripsinya seperti ini: mas-mas itu tidur dengan 1/3 kepalanya masuk area senderan kepala saya. Posisi duduk saya sudah maju tidak menyender sejak pertama mas-mas ini duduk di sebelah saya. Suatu ketika,akibat goncangan hebat di jalan gronjal-gronjal, kepala mas-mas ini berbalik arah menjauhi senderan kursi saya dan menempel pada kaca. alhamdulillah, dalam hati saya pikir saya bisa duduk menyender.

Belum juga punggung saya nempel  ke senderan kursi, mas-mas itu membuka kaki lebar-lebar,semacam bersila dengan lutut menjulur masuk ke area kursi saya. Semacam tidak nyaman ada kaki mas-mas mengintimidasi begitu,saya sodoklah kaki mas-mas itu pakai ransel. Saya taruh ransel saya duduk bersama saya untuk membatasi saya dari kaki mas-mas itu. Dan yes,berhasil. Kaki mas-mas iti turun dan kembali ke areanya.

Ok, habis perkara. Saya bisa tidur sekarang.

Belum selesai saya bersyukur, begitu menoleh ke senderan kursi:

Ckckckckck.Ini mas-mas orang apa jungkat jungkit sih. Kepala bener kaki miring. Kaki udah bener kepala jadi miring.

Kalau begini ceritanya mana ada habis perkara. Yang ada habis badan saya, rontok nggak bisa tidur semalaman.*dan kenapa blog tidak menyediakan fitur emoticon palu yang bisa mengekspresikan gerakan mentung mentung orang

Endonesah oh endonesah -_-

11/14/2014

Anemia aplastik dan teman saya

Anemia aplastik.penyakit yang mendadak akrab buat saya karena dalam 4 bulan ini ada 2 orang di sekitar saya yang kena penyakit itu. Yang satu ayah teman kerja saya dan yang satu lagi teman seangkatan saya waktu S1 dulu. Gejalanya sama, jangka waktu ketahuan penyakitnya sama,dan akhirnya pun sama. Seperti ayah teman saya yang nggak ada bulan Juli lalu,teman saya pun pergi,kemarin.

Merujuk ke wikipedia, "Aplastic anemia is a disease in which the bone marrow, and theblood stem cells that reside there, are damaged. Aplastic refers to inability of the stem cells to generate the mature blood cells"

Persis seperti yang tertulis, teman saya harus dapat transfusi darah paling tidak 10 hari sekali karena sumsum tulang belakangnya tidak bisa memproduksi sel darah merah sendiri. Gejala awalnya hanya meriang,lesu. Selanjutnya jadi pucat, gusi berdarah,dan keluar bintik merah di kulit : pendarahan dalam karena trombosit minim.

Tadi ibu teman saya itu cerita, teman saya sejak kecil sering makan makanan yang dipanaskan dengan microwave atau alat pemanas lain yang memancarkan gelombang radiasi. Memang,radiasi itu salah satu penyebab anemia aplastik.

Well. Saya masih nggak tahu harus komentar apa. Di tengah teman-teman saya heboh menghitung urutan kandidat-kandidat yang akan nikah duluan,teman saya ini malah ambil bagian pergi duluan -_-,.

Teman saya ini anaknya super baik, sejauh yang saya tahu dia sehat, rajin naik sepeda dan mendaki gunung. Bukan tipikal mas-mas gendut pemalas yang obesitas. Setelah lulus seperti saya kerjaannya ngorek-ngorek sampah. Dan saya menyesal,membalas whatsappnya ala kadarnya saja 3 minggu lalu.andai whatsapp punya fiture khusus penanda orang mau pergi semacam status read yang centang 2 itu :)))

Masih aneh rasanya lihat teman saya tiduran di peti jenazah. Biasanya saya ketemu dia di lab sedang makan bekal masak sendiri: babi bumbu kecap yang sering juga ditawarkan ke saya sambil cengengesan -_-"

Nyah.sudahlah.Mungkin lain kali saya akan membalas semua whatsapp dengan sepenuh  hati dan ingat untuk meluangkan waktu mengobrol selagi saya bisa mengobrol :(

Baiklah begitu saja. Selamat jalan pichan!

7/10/2014

Masohi, bukan morowali atau manokwari

Well, susah sekali mewujudkan resolusi tahun 2014 untuk posting sebulan sekali. yah yasudah lah. yang penting tetap lanjut posting di tahun ini *melemah.hahaha

Awal bulan Juni kemarin saya mengiyakan tawaran survey dari Pak Bos. Ke Masohi katanya. Butuh waktu 2 minggu untuk bisa ingat saya mau dikirim kemana, atau lebih tepatnya saya baru ingat nama daerahnya setelah saya sampai disana. Itupun karena ada tulisan MASOHI diukir besar-besar di atas gunung, macem tulisan Hollywood yang sering nongol di seleksi American Idol. Sebelum lihat tulisan itu, saya hampir kena amuk partner survey saya yang pusing dengar saya bilang: Kak, kita ke manokwari pesawat jam berapa? atau kak, kita udah pesen penginapan belum di morowali? *dasar si pikun:)))

Yup, Masohi, sebuah kota pelabuhan di Pulau Seram bagian selatan, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan kapal cepat dari Ambon. Dari Jakarta, tentu saja pesawat ke Ambon. Jangan khawatir, pesawat ke Ambon sudah cukup banyak. Yang perlu diwaspadai hanya kapal untuk menyebrang ke Pulau Seramnya, adanya hanya pagi atau sore. Sekali ketinggalan yasudah. bersabarlah untuk bermalam di pelabuhan :p


Kota ini sebetulnya sudah sering masuk internet karena masuk jalur transportasi ke Ora Beach, kata orang ini maldives-nya Indonesia. Sayang saya tidak bisa kesana karena waktunya mepet dan ternyata masih perlu 4 jam perjalanan dari Masohi *padahal udah pamer-pamer mau kesana sebelum survey,doh memang manusia nggak boleh sombong.
***
Skala nilai tempat wisata untuk Masohi menurut saya 7 dari 10. Pantainya (sejauh yang saya datangi ya) masih kalah dibanding Halmahera Utara dan Ambon. Ikan tidak terlalu segar karena katanya didatangkan dari Pulau Seram bagian Utara.


Makanan khas dari daerah ini adalah suami, terbuat dari singkong, kenyal, untuk makanan pokok pengganti nasi, namun bisa juga dijumpai di Ambon. Fasilitas Kota cukup lengkap dan nyaman untuk wisatawan. Selain itu yang plus adalah tata kotanya baguuus. Dilihat dari atas gunung kesannya rapi dan menurut saya berseni. Ada kapel, ada masjid, ada rumah, ada lapangan, dan ada taman -sayang saya nggak dapat foto landscape kotanya,duh.




Kata Bapak Pemda yang menemani tim saya kesana kemari, penduduk disana malas-malas. Dulu, ada kebun jambu mete yang luas sekali. Lalu ada kebun coklat dan cengkeh. Tetapi karena penduduknya kurang ulet, habis lah sudah. Ah sayang sekali.

Oh ya, boleh dibilang malas, tapi penduduk Masohi juara untuk masalah nonton bola. World Cup memberi dampak yang cukup besar bagi daerah ini. Setiap malam ada pawai motor dan setiap selesai pertandingan selalu ada arak-arakan keliling kota, sesuai kesebelasan yang menjadi pemenang. Saya sempat kewalahan terjebak pawai supporter Belanda waktu mau pergi ke Pelabuhan. Entah karena saking lamanya dijajah Belanda atau apa, supporter Belanda disini banyaaaak. Dan pawainya, alamak. Dari ujung kota ke ujun lain, macet total.

Lepas dari world cup, ada satu cerita menarik yang membuat saya terkagum-kagum sambil mikir gimana bisa gitu. 

Masohi, adalah salah satu daerah yang ikut rusuh waktu ada kerusuhan Ambon dulu. Kerusuhannya bagaimana bukan tugas saya untuk menceritakan ya,hehe. Yang saya mau ceritakan disini adalah bagaimana mereka mendapat senjata.

Yah, karena terbatasnya logistik, para pemuda di Masohi menyelam laut dalam untuk mengambil sisa-sisa perang jaman Belanda. Jangan tanya saya bagaimana detailnya apalagi tanya mereka menyelam di sebelah mana. Menurut Bapak yang menceritakan, ada orang-orang tua yang masih hidup dan dulu ikut perang jaman Belanda. Selain melihat sendiri perang ada di laut mana, beliau-beliau ini punya semacam kekuatan magis yang bisa membimbing mas-mas yang mau menyelam ambil bom.

Yang jelas, mereka berhasil mengambil bom-bom sisa-sisa perang Belanda dan mengambil bubuk mesiu-nya untuk dirakit jadi bom baru. Dan Bumm. Sepertinya  keren sekali perang lokal bukan lagi dengan bambu runcing tapi dengan bom. Semacam ada tentara-tentara jepang ikut perang -_-'

Well, percaya atau tidak, memang begitu faktanya. Mungkin kalau penduduk Masohi mau lebih rajin lagi kita bisa buka wisata perang bawah laut. Sepertinya seru ;) 

5/27/2014

Seminggu Membatu

Karangsambung adalah sebuah daerah di Kebumen Jawa Tengah yang terletak pada ketinggian 175 meter di atas permukaan laut. Terbentuk dari gabungan formasi Karangsambung dan Totogan dimana salah satu formasi didominasi batuan lempung dan gamping sedangkan yang lainnya diisi batuan beku. Dicirikan dengan bentang alam perbukitan yang membentuk tapal kuda, mengandung batuan yang sangat bervariasi dengan banyak sekali singkapan sehingga sangat cocok dijadikan area penelitian geologi.

Citra Satelit Karangsambung
Demi apa,lah.hahaha 

Akibat keisengan murtad jurusan masuk S2 pertambangan, 6 hari kemarin saya terseret ikut ekskursi eksplorasi geologi. Namanya juga mantan anak teknik lingkungan (TL) ya, begitu denger kata ekskursi di otak kebayangnya turun dari kereta lantas duduk-duduk  di bus AC sambil liat kiri kanan karena kalau mbak-mbak TL dikasih panas-panas ga ketulungan seharian pasti ada aja yang tumbang.

Macem amoeba tak bertenaga, saya berangkat dengan persiapan ala kadarnya.

Kesalahan pertama adalah saya lupa kalau ini ekskursi jurusan tambang, dimana tidak seperti di TL, tambang isinya mas-mas bukan mbak-mbak. Alih-alih berada di dalam bus AC sambil cantik-cantik make up-an, saya terseret naik turun bukit dan sungai yang embuh isinya apa, jongkok berdiri lompat-lompat dari satu batu ke batu lain, gelantungan apa saja yang bisa digelayutin buat pegangan, pagi sampai sore, dan sama sekali ga ada yang pingsan. Alamak!

 Benar-benar saya baru ngerasain namanya kerjaan orang geologi : gosong, ngos-ngosan, bekeringat, haus, dan bentol-bentol gatel. Padahal yang saya rasain kemarin itu cuma pura-pura jadi geologist, bukan beneran eksplorasi geologi. Jalan panas-panas di pinggir sungai atau jalan raya, tiap beberapa meter berhenti untuk ngelus-ngelus batu.

Ditambah, yang namanya Karangsambung, panasnya naudzubillah. Kalau Bandung yang semeriwing itu ada di 700-an mdpl, si Karangsambung ini posisinya di 160-an. Bayangkan betapa panasnya. Mendengarkan penjelasan dosen di atas kerikil di pinggir sungai jam 12 siang rasanya bak naik haji berjamaah: lagi wukuf di Arafah. Kalau boleh dibilang frustasi, iya saya frustasi.HAHAHA.


Saya, dengan background S1 TL dan S2 tambang tapi subjur ekonomi benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan batu-batu itu. Pak dosen tambang terlihat sekali frustasi menjelaskan strike bukanlah dip, dan breksi adalah apa. Beliau-beliau terlihat makin frustasi karena harus berulang kali menyindir kami-kami yang melongo ini untuk aktif ikut jengkang jengking mengukur sudut rekahan batu daripada duduk doang sambil kipas-kipas ngos-ngosan.

Ngomong-ngomong saya mau kasih jempol lah buat dosen-dosen tambang. Terlihat cinta dan menikmati bidang pekerjaannya. Ga kaya saya yang kerjaannya bikin sistem pengelolaan sampah tapi ketemu sampah masih males, bapak-bapak dosen tambang ini ikut loh semua tracking. Jalan panas-panas bareng mahasiswa, menjelaskan detail-detail batuan yang kita lewati, dan tidak ragu menggelar peta sambil nangkring diatas batu, ditengah-tengah sungai. Sungguh berdedikasi.hahaha.


Sebenarnya ikut ekskursi seperti  ini sangat seru. Saya pribadi suka naik turun sungai main air, jalan di pinggir sawah, dan keluar masuk kebun. Tapi karena yang dipelajari seperti yang saya jelaskan diatas, sesuatu yang saya benar-benar nggak ngerti,  90% fokus saya saat ekskursi ada di usaha menyelamatkan diri dari tergelincir salah memilih batu pijakan atau nuncep ke pohon-pohon berduri.hahaha. 

Mengingat badan saya gendut dan sangat tidak gesit, bisa bertahan tidak jatuh atau keseleo sampai hari terakhir adalah prestasi. Yaaa, meskipun malu-malu dikit lah, orang lain bisa lompat lompat nggak pegangan, saya harus perosotan sambil nyeret batang tanaman atau apa aja yang ada di kanan kiri buat pegangan. Biar lah, yang penting selamet.hahahaha

Tapi ya, meskipun frustasi, diam-diam saya menikmati juga sih. Kapan lagi coba bisa gegayaan pakai kompas bidik-bidik gunung terus plotting di peta, foto parlente depan gunung marmer, nyebrang bendungan, makan siang di sungai, nyobain mendulang emas-meskipun ga dapet.duh- dan nangkring ga jelas di atas batu tertua di Jawa yang katanya  terangkat secara alami dari laut dalam.

Oh ya, dan saya juga jadi ingat lagi ternyata Indonesia tuh sekaya itu loh. Semacam “asal rajin nyukil-nyukil gunung sungai sama tanah”, ada saja yang bisa dijual. Dari mulai remeh temeh macam pasir atau kerikil, sampai yang bisa bikin kaya mendadak macam emas.ckckck

Okelah, paling nggak selain encok dan gatel-gatel saya dapat wawasan baru. Suatu hari nanti, kalau nggak punya uang dan makin susah cari kerjaan saya punya  opsi buat pergi ke karangsambung, diam-diam nyukilin marmer atau jongkok seharian nyari emas.muahaahaha.








1/08/2014

Cita-cita

Psikologi anak, saya rasa perlu dalam membuat film kartun. Dan ini, contoh film kartun yang "wah" sampai-sampai bisa mempengaruhi pikiran anak.

Seminggu yang lalu saya ke rumah dosen saya yang punya anak umur 2  tahun. Naro namanya. tapi karena masih celat, mari kita sebut dengan nayo.

Saya  : Nayo suka film apa?
Nayo : a a aku suka tooomas
Saya  : Oooh, tomas yang kereta itu ya. kalo nayo cita-citanya jadi apa?

Nayo : jadi keyeta

Saya  : ha? -mulai ga ngerti-
Saya  : kenapa pengen jadi keyeta?

Nayo : a a ku mau jadi keyeta soalnya enak bisa jayan jayan sama bisa ngoblol
Saya  : o_O -hilang kata-kata-





Tolong lah jangan ada yang bikin kartun pake tokoh batu bisa jalan-jalan dan ngobrol. Makin aneh aja ntar cita-cita anak jaman sekarang -_-'.hahaha