9/04/2015

Pra Wedding Mellow

Alih-alih keliling dunia untuk foto pra wed bersama si dekil yang satunya, saya mengisi waktu sebelum menikah dengan sidang tesis dan tes kerja:))))

Well, mungkin betul ya kata kakak saya dan banyak orang lainnya, dimana fase terbergoncang adalah masa-masa sebelum nikah. Galau jadi punya 2 orang tua, galau ga punya gunungan emas buat milih ini itu seenaknya, dan galau milih calon suami *loh.

Tapi yang paling top adalah duo combo ga bisa ikut ngurusin nikahan karena posisi ga di semarang dan babeh yang galau karena anak bontotnya mau diambil orang -_-"

Duh,saya paling ga suka bagian mellow ini. Membuat saya benar-benar ingat untuk menikah hanya sekali ini saja insya Allah.

Malam ini saya harus membuat pidato untuk dibacakan di depan orang-orang, isinya kata-kata untuk orang tua, terakhir sebelum menikah. Aaak, tissue mana tissuee. Akhirnya ada fase saya mewek juga.setelah kemarin bolak-balik merasa tidak normal karena mau nikah tapi sama sekali nggak deg-deg-an -_-"

By the way, saya mau mengucapkan terima kasih yang amat sangat kepada teman-teman sepermainan yang menggelar bridal shower. You made me, finally, feel like a real bride wanna be:))))))

Well, wish me luck ;)

7/21/2015

Cipali dan Warung Sambal Tumpang

Halo! Selamat lebaran! Mari bermaafan, maafkan saya yang lupa komitmen posting 1 bulan sekali 2 bulan terakhir :P

Tahun ini bidang permudikan Indonesia mengalami kemajuan pesat. Tol Cipali sudah dibuka, menghubungkan cikampek hingga pemalang, mereduksi waktu tempuh jakarta- semarang yang tadinya 8 jam hingga hanya 6 jam saja.

Saya dan orang tua saya memutuskan menjajal tol ini di perjalanan pulang dari bandung ke semarang. Alih menikmati empal gentong di tengah kota, kami belok masuk ke dalam Tol Cipali di Cirebon.

Mulusnya jalan membuat ayah saya lupa diri sedang menyupir mobil tua merk rakyat jelata, alih-alih merk blade putih yang membelah langit biru. Mulus jalannya boleh lah, meskipun pepohonan belum ada, jadi panasnya luar biasa.

Belum setengah jam terbang melayang di atas jalan mulus, di depan mata terhampar rentetan mobil yang mengantri meliuk mengikuti alur jalan tol. Mobil berhenti, maju sepanjang 5 meter kira-kira setiap 1 menit sekali. Sudah ada tol sepanjang ini, apa pula yang bikin macet?!

Hampir 2 jam mobil merayapa. Setelah mobil ayah saya berhasil merengsek semakin maju ke depan, diketahuilah, sumber dari segala kesulitan hidup ini ternyata adalah gerbang tol.

Yak, tak terhitung banyaknya gerbang tol yang dibuka. Tapi coba lihat pelayanannya.

Tidak ada papan harga, adanya hanya papan "siapkan uang pas". Lha pas-nya itu berapa?

Begitu saya saya menyodorkan 20ribu, mbak loket bingung mencari kembalian. Biaya tol adalah 7ribu.Mbak loket harus mengembalikan 13 ribu ke ayah saya.

Setelah kutrek-kutrek laci, kepala mbak loket nongol, "Pak, nggak ada uang pas?", "Nggak ada, jawab ayah saya".

Kepala mbak loket masuk dan kembalik ngutrek laci, lalu nongol lagi. "seribuan ada nggak?"

Bak bapak-bapak yang sedang antri dibikinkan roasted chicken di diner dash, muka ayah saya sudah memerah dengan alis naik dan dahi berkerut. Kalau sampai mbak loket nggak nongol-nongol juga, terabas palang tol :)))))

Semenit kemudian,

"Terima kasih Pak," -> pintu palang dibuka

Alamak, bos mbak loket ini sedang diwawancara di tv. Katanya, kami sudah menambah gerbang tol *mungkin setelah ini bisa lebih dipikirkan kualitasnya juga daripada hanya kuantitas ya pak. Tuker uang kencreng ke BI dulu lah pak sebelum jaman mudik :)))))

Macem mana pengelola tol kalah sama pengelola warung sambal tumpang di kampung ayah saya. Mengantisipasi lonjakan pembeli, pengelola warung menambah kursi dan meja di luar warung, menambah pegawai, dan paling top adalah:

mereka membuat semacam split tempat pembelian buburnya. Jadi antrian pembeli terbagi 2 spot *tepuk tepuk

Semua pembeli terlayani dengan cepat dan relatif mendapatkan pesanan persis seperti yang mereka pesan. Nyah, mungkin orang-orang di kota kadang perlu benchmarking ke desa -_-"