3/05/2015

Menghindari Ghibah

Seorang teman saya mem-posting sebuah foto di grup angkatan kuliah saya.


Menyadari jumlah pahala yang tanpa dibagi-bagi pun entah cukup atau tidak untuk mengantar saya masuk surga, marilah menghindari ghibah, paling tidak untuk malam ini. Posting ini dibuat untuk mengalihkan pikiran saya dari kegiatan ghibah akibat es kelapa -nggak- muda plus jeruk yang entahlah ini bagaimana cara minumnya *keluar tetesan air di jidat.

Akhir-akhir ini media sering memberitakan mengenai eksekusi mati terpidana narkoba. Mereka berasal dari berbagai negara, tetapi yang paling beken adalah 2 orang yang berasal Australia.

Sementara ini saya cukup kagum melihat Pemerintah Indonesia yang masih bersikap menolak pembatalan eksekusi mati terpidana narkoba. Iya, sementara, karena eksekusi mati belum benar-benar terlaksana. Masih ada kemungkinan eksekusi dibatalkan, dan bila itu tejadi, hilanglah sudah kekaguman yang sementara tadi. 

Australia dengan berbagai cara melindungi warga negaranya yang akan dieksekusi mati. Tindakan ini merupakan suatu kewajaran bagi negara yang peduli terhadap warga negaranya dan merasa cukup berkuasa. Di satu  sisi saya melihat sisi positif dari usaha Australia, yang terlihat sekali mengupayakan kedua warga negaranya bebas dari hukuman mati-Indonesia harusnya bisa mencontoh ini. Tapi di sisi lain, beberapa langkah yang ditempuh Australia membuat saya harus bilang "heh??"

Beberapa konferensi pers yang muncul di tv menayangkan cuplikan pidato PM Australia dan seorang lagi -maaf saya tidak tahu itu siapa- yang beberapa kali menyatakan, Indonesia harus melepaskan kedua terpidana mati karena bila eksekusi tetap dilaksanakan, Indonesia lah yang akan menanggung kerugian paling besar.

Sebetulnya dalam hati saya bertanya, sebesar apa kerugiannya. Dari kabar-kabar yang beredar, wilayah Indonesia sudah dikepung oleh kapal-kapal Amerika dan Australia yang siap memborbardir kapan saja diperlukan. Apakah iya, yang dimaksud kerugian adalah ini? Kalau memang iya, apakah bisa jaman sekarang tiba-tiba perang dengan alasan yang aneh ini. Apakah iya, Australia bisa asal serang Indonesia, yang mana Indonesia sekarang punya posisi strategis untuk bisnis dan dilirik banyak negara maju?

Menanggapi lobi yang belum berhasil, Australia mengeluarkan langkah-langkah lain. Salah satu contohnya adalah pelarangan warga Australia untuk berkunjung ke Indonesia, yang mana warga Australianya pun protes mengapa dilarang pergi ke Indonesia. -Yaudah sih, nggak masalah. Wong mereka pergi ke bali dan lombok kok, bukan ke Indonesia :)))). 

Soal PM Australia yang mengungkit-ungkit bantuan Aceh sih semua sudah deal kalau itu aneh ya, sekarang mari lanjut ke keanehan selanjutnya. 

Sebetulnya saya kurang paham, apa saja yang bisa meringankan dakwaan. Pemerintah Australia, akhir-akhir ini sibuk mengungkit ketidak adilan yang diperoleh 2 warna negaranya, dibandingkan dengan warga negara Indonesia yang menyelundupkan narkoba ke Australia.

Dari berita yang beredar, ternyata ada 3 orang warga negara Indonesia yang sekarang sedang ditahan di Australia akibat menyelundupkan narkoba, dengan jumlah 10 kali lipat dari narkoba yang diselundupkan 2 terpidana mati di Indonesia. 

Tiga orang Indonesia yang menyelundupkan narkoba ke Australia hanya dihukum 25 tahun penjara dan diperbolehkan mengajukan keringanan setelah sekian tahun di penjara. Selain itu, warga negara Indonesia menyelundupkan Narkoba ke Australia menggunakan kapal canggih yang dimodifikasi. Sedangkan 2 orang Australia yang akan dieksekusi hanya menggunakan plastik dan selotip. 

Tidak berhenti mengecam, Australia mempermasalahkan fasilitas penjara di Indonesia yang tidak sebaik di Australia. Akhirnya, karena putus asa mengancam, Pemerintah Australia menawarkan barter tawanan *nahan ketawa.

Saya nggak habis pikir, mengapa Australia bisa mengeluarkan opsi itu. Bagi saya, kalau hukum Australia tidak seberat hukum Indonesia, ya selundupkanlah narkoba ke Australia saja, jangan ke Indonesia. Kalau berbicara mengenai fasilitas, saya ingin membandingkan dengan fasilitas yang diterima Kedubes Australia ketika musim bom di Indonesia. Saat ini, KJRI Indonesia di Sidney menerima beberapa teror. Tiba-tiba muncul bercak cat berwarna merah darah dan balon-balon berisi cat di dekat pintu masuk kantor KJRI. Penjagaan diperketat dengan menambah personil polisi menjadi 4 orang.

Apakah ada yang ingat bagaimana penjagaan Kedutaan Australia di Jakarta jaman-jaman ada serangan bom di Indonesia? *dadah dadah.

Nyah, saya nahan ketawa sekaligus agak bangga sih. Manusia Indonesia akhirnya dibilang lebih canggih, bisa merakit kapal modifikasi, dibandingkan orang Australia *ya meskipun canggih untuk sesuatu yang salah sih.hahaha. 

Dan akhirnya saya merasa ada poin plus dari ketidak pedulian Pemerintah Indonesia akan warganya-muahahaha. Sekarang kita di posisi aman menang, istilahnya kalau mau barter, disini ditembak dan disana juga akan ditembak, yah yasudah. Toh nggak ada yang sadar juga kalau ada warga negara kita yang sedang dipenjara di Australia. Pemerintah Indonesia saja sepertinya nggak ngeh, kalau Pemerintah Australia nggak menyebut-nyebut itu :))))
 




2/23/2015

Tukang Translet Jepang

Halo!
Siang ini saya sedang terjebak di depan laptop, mencoba berkutat mengerjakan amanah negara yang diberikan kepada saya : mengusahakan lulus s2 sebelum beasiswa mandek.

Alih-alih berhasil mengurangi blank space dalam lembar-lembar draft th*sis, saya malah berkutat dengan huruf-huruf jepang yang mbuh iki opo. 

Alkisah, usulan tema th*sis yang saya ajukan disetujui oleh dosen saya. Isinya membahas isu global yang katanya sedang hot. Sebetulnya yang dibahas disini masalah klasik: negara maju punya banyak uang dan ingin semakin punya banyak uang, sedangkan negara berkembang kekurangan uang dan entah kenapa semakin nggak punya uang saja :P

Seperti yang kita ketahui, Indonesia kekurangan listrik. Salah satu masalah adalah mampetnya modal untuk investasi pembangkit listrik yang nilainya waw itu. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara yang -masih- minim industri punya potensi penurunan emisi gas rumah kaca, dimana kreditnya bisa dijual ke negara-negara maju yang kelebihan polusi udara.

Jepang, adalah salah satu negara yang mencari-cari kredit karbon. Maka datanglah Jepang ke Indonesia, dengan membawa suatu mekanisme kerja sama, dimana Jepang akan membiayai pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan di Indonesia. Simbiosisnya? Indonesia akan punya pembangkit listrik cuma-cuma, dan Jepang akan mendapat kredit karbon dari hasil "beramalnya".

Sekilas sungguh menyenangkan mekanisme yang diterapkan, sekedar mengajukan project design berisi bentuk kegiatan, rencana pengukuran emisi dan pelaporan, lalu taraaa! lembar-lembar Yen akan mengalir ke indonesia. 

Saya pun, di awal termasuk orang-orang yang senang dengan mekanisme ini. Selain mendapat topik th*sis,hehe, saya pikir ini salah satu cara agar Indonesia tidak jalan di tempat. Entah ditipu entah tidak, Indonesia nanti akan punya pembangkit listrik yang wow.

Tapi, makin saya mempelajari mekanismenya, makin mengumpat-umpatlah saya dalam hati. Apalagi menyadari bahwa penelitian saya nantinya akan menunjang tumbuh kembang penipuan bagi Indonesia :)))). Suudzon versi simpel dari hasil saya mencari tahu adalah: sebetulnya mereka jualan, bukan beramal. Sudah jualan, dapat kredit karbon pula. Alamak pintarnya!

Jadi, dana yang digunakan dalam kerja sama ini berasal dari industri-industri Jepang. Misal project tentang solar energy, yang mendanai adalah Sony Energy Device Corporation. Sebetulnya saya tidak tahu pasti ini perusahaan apa. Tapi dari namanya, sepertinya perusahaan ini memproduksi sesuatu komponen solar cell. ini adalah suudzon hasil kejadian yang sudah-sudah, dimana Indonesia menerima kredit pembangunan pembangkit listrik dari Tiongkok, yang mana ternyata unitnya adalah barang Tiongkok *yaiylah*, spare partnya dari Tiongkok dan yang parah adalah engineer plus operator-operatornya pun harus pakai yang dari Tiongkok:))))

Nah kembali ke masalah Indonesia dan Jepang yang jual beli karbon tadi. Dalam hati sebenarnya saya merasa pilu karena Indonesia lagi-lagi akan ditipu. Namun, kepiluan hati yang lebih mendalam saya rasakan ketika menyadari fakta bahwa saya harus membaca semua dokumen kerjasamanya, dan:

ITU SEMUA DOKUMEN DITULIS BAHASA JEPAAAAAAAANG 
'*#!**!$!$?!#?!%!$!!?****?!$$!

Doh, Indonesia cepat-cepatlah lepas dari penjajahan, agar mahasiswa-mahasiswa lelet nan kepepet macem saya ini tak perlu bolak balik klak klik klak klik google translete -__-